Pages

Saturday, 15 October 2016

Menulis Ulang Jepang (6): Melihat Bintang-Bintang, Saatnya Pulang




Hari terakhir saya di Jepang, 12 September 2016. Saya check out dari hotel pukul 10 pagi dan berjalan ke Minam-senju. Ransel saya lebih berat dari saat saya datang. Lumayan bikin pegel. Saat menemukan kotak pos di pinggir jalan, saya mengeposkan beberapa kartu pos untuk keluarga dan teman. Meskipun masih ingin ke Akihabara lagi, tetapi saya skip tempat itu supaya bisa ke tempat-tempat lainnya.

 Jalanan di sekitaran Juyoh

 Stasiun Minami-senju

Saya naik kereta ke Kita-senju untuk makan udon di OIOI. Melihat kereta pertama datang, saya langsung mengambil posisi duduk. Dan merasa agak aneh, karena gerbong benar-benar kosong. Cuma saya yang ada di sana. Belum ada satu menit duduk, saya didatangi petugas kereta. Dia bicara dengan Bahasa Jepang tapi dari gerakan tangannya saya tahu satu hal: kereta ini memang sengaja dikosongkan. Sepertinya akan balik ke arah Ueno, alih-alih Kita-senju. 

 Ternyata salah naik kereta

Ketika saya akhirnya sampai di Kita-senju naik kereta lain, mall belum buka. Saya lihat lewat pintu kaca, mall buka pukul 10.30; masih 10 menit lagi. Beberapa orang sudah berdiri di depan pintu, termasuk saya. Berseberangan dengan kami, ada dua pegawai mall – lelaki dan perempuan – yang berdiri menghadap kami, beberapa kali membungkuk. Seriusan. Mungkin itu seperti ucapan memberi salam atau gesture ‘meminta maaf’ atau ‘terima kasih’ karena konsumen mesti menunggu.

 Beberapa orang sudah menunggu meskipun mall belum buka.
Dua pelayan di depan siap menyambut pengunjung.

As expected, pukul 10.30 teng, pintu dibuka. Semua yang di dalam sudah siap, termasuk  warung udon yang saya tuju. Saya memesan udon yang sama. Pelayanannya juga sama. Mellow semalam mendadak muncul lagi.

 Makan udon lagi

Meninggalkan OIOI dengan emo, saya langsung ke Tokyo Skytree Tower. Dulu saya ke sana untuk naik ke observatorium deck-nya, tapi kini tujuan saya adalah Planetarium Konica Minolta. Seumur-umur, saya baru sekali ke planetarium. Itu pun planetarium di Taman Ismali Marzuki Jakarta. Di Tokyo ada beberapa planetarium, termasuk yang ada di Shibuya. Tapi Konica Minolta adalah yang paling baru karena dibangun di 2012, jadi saya pikir, peralatannya lebih canggih.

Saya sampai sekitar pukul 12, sementara pertunjukan selanjutnya satu jam setelahnya. Jadi setelah membeli tiket, saya duduk-duduk saja di depan ticket counter. Saat itu ransel terasa semakin berat jadi saya memilih untuk duduk ketimbang jalan-jalan.

Ada beberapa pertunjukan yang ditampilkan di planetarium ini, yang saya tonton berjudul Star Flight Hokkaido. Ada pula yang temanya dinosaurus (jangan tanya kenapa ada dinosaurus di planetarium) dan yang unik, ada pertunjukan dengan aroma terapi juga. Sayang karena waktu yang terbatas, saya tidak bisa memesan pertunjukan dengan aroma terapi itu karenanya adanya sore hari.

Sepuluh menit sebelum pertunjukan dimulai, penonton dipersilakan masuk. Ruangannya luas dan terlihat modern dengan atap melengkung. Saya meminta headphone untuk mendengarkan terjemahan Inggris dan menitipkan ransel saya di depan. Setelah itu saya mulai mencari nomor kursi yang tertera dalam tiket.

Ruangan mulai digelapkan, dan beberapa iklan sponsor ditayangkan. Tak lama, seiring backsong dari Pentatonix, cerita pun dimulai.

Sang narator berkisah – dengan Bahasa Jepang, saya mulai mendengarkan terjemahannya melalui headphone – kalau di masa lalu Hokkaido adalah tempat dengan langit malam penuh bintang paling terang. Kita kemudian seperti dibawa naik pesawat dari Tokyo ke Hokkaido dan melihat lampu-lampu berkilauan dari atas sana.

Setelah itu diceritakan tentang rasi bintang, tentang bintang utara, tentang asal-muasal benda-benda angkasa. Daaan…di tengah-tengah pertunjukan, saya ketiduran. Iya, ketiduran! Mungkin karena efek ruangan yang gelap, AC yang sejuk, dan suara Pentatonix yang tiga kali lebih keren karena kualitas audionya yang super.

Bangun-bangun, pertunjukan hampir selesai. Tak lama, lampu dinyalakan dan lagu-lagu Pentatonix kembali diputar. Belakangan saya tahu kalau hari itu adalah pertunjukan terakhir Planetarium Konica Minolta feat. Pentatonix. Mungkin untuk pertunjukan selanjutnya, backsong-nya bisa dari musisi yang lain.

Dari planetarium, saya ke Tsukishima untuk mencoba monjayaki, makanan khas Jepang. Ini gara-gara saya pernah menonton Paruru makan monjayaki di daerah itu, saya jadi pengin. Konon tempat ini bahkan punya monjayaki street saking banyaknya orang yang jual monjayaki.


Sudah setengah hari saya membawa-bawa ransel, bahu mulai protes. Saya ingin cepat sampai ke monjayaki street. Well, entah kenapa saya tidak menemukan satu pun kedai monja. Padahal Paruru kelihatan gampang menemukannya. Setelah bolak-balik mencari dan tidak nemu, saya menyerah. Saya langsung ke tujuan selanjutnya di Odaiba.

Sekarang saya tahu kenapa saya tidak bisa menemukan monjayaki street. Setelah menonton ulang video Paruru, saya baru ngeh kalau station exit saya berbeda arah dengan Paruru. Saya belok ke kanan, Paruru ke kiri. Saya sempat juga menanyakan arah jalan ke seseorang, tapi sepertinya dia salah tangkap jadi saya malah jadi tambah jauh nyasar.

Di Odaiba, uang yen saya menipis. Saya menukarkan USD yang sengaja saya bawa untuk jaga-jaga. Saya tukarkan USD ke yen di money changer sana yang memakai mesin.

Karena capek membawa-bawa ransel, saya titipkan ransel di coin locker. Langsung enteng T_T

Di Odaiba, saya ke FujiTV. Di lantai dasarnya ada Chibi Maruko-chan Café. Karena sudah terlalu sore, tidak banyak tempat yang bisa dieksplor di FujiTV. Observation deck-nya juga sudah tutup. Dari FujiTV, saya berjalan kaki menuju mall dengan background Patung Liberty kw yang jadi ikon Odaiba. Foto-foto sebentar, saya langsung ke Bandara Haneda. Kalau tidak capek dan diburu-buru waktu, mungkin saya bisa ke tempat-tempat menarik lainnya. 

 Ada Chibi Maruko-chan cafe lho di FujiTV

Sazaesan cafe juga ada

 Ikon Odaiba

Setelah sempat salah terminal, saya akhirnya sampai di terminal keberangkatan untuk penerbangan internasional. Makan malam saya di bandara ini adalah yang termahal setelah makan di AKB café. Tapi rasa memang tidak bisa bohong. >,<

 Sampai di Haneda. Jepang siap menyambut olimpiade.


Tempat makan bergaya Edo di Haneda

Makan malam sebelum boarding

Selesai check in ulang, saya menunggu di gate sambil mendengarkan musik atau browsing. Semalaman di pesawat saya habiskan untuk tidur; kali ini saya duduk dekat gang. Paginya saya sarapan mie rebus di KLIA Malaysia dan sorenya saya sudah kembali lagi ke Jakarta.

***

Saya telah menulis ulang cerita perjalanan ke Jepang. Kalau dulu saya hanya membayangkannya, sekarang saya benar-benar telah menjalaninya. Di cerita yang sebenarnya, banyak detail yang hilang.

Tidak ada Nagoya dengan Sunshine Sakae dan teater SKE48.
Tidak ada Arashiyama, geisha, dan tea ceremony di Kyoto.
Tidak ada Osaka.
Tidak ada nonton live theater.

Mungkin – well, mungkin saja – cerita itu disimpan untuk ditulis nanti.

Menulis Ulang Jepang (5): Kembali ke Jaman Edo




Di hari keempat, Minggu 11 September 2016, saya hanya punya dua agenda: mengunjungi Edo-Tokyo Open Air Architectural Museum dan Tokyo Skytree Tower. Saya selalu suka dengan open museum karena suasananya yang diciptakan seperti masa lalu, termasuk dengan orang-orang (selain pengunjung) di dalamnya juga yang biasanya sukarelawan. Para sukarelawan ini seringnya memakai kostum seperti jaman dulu dan melakukan pekerjaan-pekerjaan pada masa itu. Sebelum museum di Tokyo ini saya pernah mengunjungi open museum di dua kota: di Arnhem, Belanda dan Oslo, Norwegia.

Jarak tempuh dari Minami-senju ke Higashi-kogaeni – stasiun yang paling dekat dengan museum – sekitar satu jam. Kereta yang awalnya penuh berangsur-angsur sepi karena menjauhi pusat kota. Meskipun hari Minggu, saya melihat beberapa orang memakai baju kantoran berjas ataupun dipadu blazer.

Setelah sempat ketiduran karena AC yang dingin dan perjalanan yang panjang, akhirnya saya sampai juga di Stasiun Higashi-kogaeni. Karena belum sarapan, begitu keluar dari stasiun saya langsung cari makan. Ada beberapa kedai kecil, tapi saya tertarik dengan grilled beef yang kelihatannya enak. Sebelum saya masuk, ada bapak-bapak yang masuk lebih dulu. Saya mengekor di belakang.


Enak!

Alih-alih langsung duduk, si bapak tadi langsung menuju semacam mesin mirip ATM yang ada persis setelah pintu masuk, di sebelah kiri. Rupanya dia memilih menu dan membayar langsung dari situ. Saya sudah pernah dengar konsep kedai seperti ini sebelumnya, tapi mencobanya sendiri tetap seru.

Setelah memilih makanan dan membayarnya, saya duduk di meja untuk dua orang. Di seberang saya, ada kakek-kakek yang minum sake sendirian, makanannya tidak tersentuh bahkan sampai saya selesai makan. Mungkin dia sedang sedih…

Grilled beef yang saya pilih rasanya enak. Bumbunya minimalis, tapi kuat di rasa. Didukung nasi jepang, makan siang saya hari itu memuaskan!

Selesai makan, saya langsung ke terminal bis di depan stasiun untuk mencari bis tujuan museum. Dan saat itu, saya bingung. Tidak ada petunjuk apapun, apalagi yang memakai Bahasa Inggris. Tidak ada yang terlihat bisa ditanyai. Akhirnya saya ke kantor polisi untuk menanyakan arah. Seorang polisi muda dengan Bahasa Inggris terpatah-patah menyarankan saya untuk naik bis warna pink.

Kebetulan bis pink masih ada di halte dan siap-siap berangkat. Saya mengejarnya dan hanya dengan 100 yen, saya langsung diantarkan ke museum.

Well, mestinya sih begitu.

Kenyataannya, bis terus berputar-putar sampai saya curiga kalau museum sudah lewat. Saya pikir, bis itu punya rute khusus ke museum. Ketika di satu tempat orang ramai turun, saya ikut turun. Apalagi ada taman di sebelah kanan; mungkin itu pintu masuk ke museum.

 Salah masuk taman

Ternyata itu semacam hutan kota. Saya foto-foto sebentar terus kembali ke halte untuk menunggu bis pink yang lain lewat. Oiya, halte di sini bukan bangunan permanen, tapi cuma ditandai dengan papan bertuliskan kanji. Orang-orang menunggu sambil berdiri. Tapi di halte yang dekat taman tadi ada tiga kursi diletakkan berderet. Pun demikian, tidak ada yang mendudukinya.

 'Halte' sederhana

Suasana di area Tokyo pinggiran ini beda dengan pusat kotanya. Lebih sepi dan nyaris tidak ada informasi dalam Bahasa Inggris. Ini sangat menyulitkan bagi turis asing yang tidak bisa berbahasa dan membaca tulisan Jepang.

Saya naik bis lagi dan alih-alih kembali ke Stasiun Higashi-kogaeni, bis membawa kami ke Stasiun Musashi-Kogaeni. Dari peta, saya tahu kalau stasiun ini beda satu stasiun dari yang sebelumnya. Di depan ke Stasiun Musashi-Kogaeni juga ada terminal bis. Enaknya, langsung ada informasi bis nomor berapa yang tujuannya ke Edo-Tokyo Open Air Architectural Museum. Saya naik bis dimaksud dan akhirnya dengan selamat sampai museum T_T Total saya menghabiskan waktu hampir satu jam sendiri untuk muter-muter naik bis.

Jalan masuk dari gerbang depan ke museum lumayan jauh juga. Ada banyak keluarga yang memanfaatkan taman di sana untuk bersantai atau berolah raga. Saya langsung ke museum, membayar tiket masuk ke dalamnya setelah dibekali dengan peta museum.

 Museum menyatu dengan taman kota

Karena konsepnya arsitektur dari sekitar jaman Edo, bangunan di sana punya gaya yang khas dan menarik. Ada yang terlihat kuno-antik, namun ada pula yang terpengaruh budaya Barat. Ada yang bisa dimasuki, ada yang tidak. Ketika bisa masuk ke sebuah bangunan pun, tidak semua ruangan di dalamnya bisa dimasuki. Kita harus memperhatikan papan informasi agar tidak melanggar.



Di salah satu bangunan, ada dua kakek sedang merebus air untuk membuat teh. Mereka adalah relawan museum ini. Mereka menyapa saya memakai Bahasa Inggris dan mengajak saya minum teh bareng. Kami ngobrol mulai dari cuaca sampai pekerjaan mereka sebagai relawan. Salah satunya bahkan mempraktekan cara merebus air dengan cara tradisional dan meminta saya mencobanya. Saya juga diberi souvenir kecil seperti wadah dari anyaman.

 Dua kakek baik ini sukarelawan museum

Di bangunan yang lain, saya melihat seorang perempuan sedang memainkan wayang boneka di depan anak-anak. Di tempat lainnya lagi, ada orang yang membuat payung kertas. Saya menjelajahinya satu per satu, sesekali duduk sambil minum Pocari Sweat.

 Kalau kakek yang ini membuat payung dari kertas



Jualan orang jaman Edo

 Nenek-nenek sukarelawan yang sengaja memakai kimono

Museum ini sebetulnya bagus dan patut dikunjungi, tapi mood saya saat ke sana sedang kurang oke. Mungkin karena sebelumnya saya nyasar-nyasar naik bis. Sudah capek duluan. Selain itu, banyak spot yang menarik untuk foto-foto tapi karena datang sendiri, jadi banyak yang terlewatkan. >,<

Saat berjalan di taman, saya melihat seseorang yang mirip dengan Kashiwagi Yuki. Gaya dia mengikat rambutnya pun sama. Ketika saya berjalan melewatinya, saya lihat dia sedang menangkap Pokemon di taman. Selain Yukirin, dua kali saya melihat seseorang yang mirip member AKB48. Yang pertama adalah Shimada (bukan Shimazaki) Haruka saat saya naik kereta ke Shibuya dan yang kedua adalah Miyawaki Sakura saat saya menunggu di Stasiun Akihabara. I know it was only my imagination.

Dari Edo-Tokyo Open Air Architectural Museum, niatnya saya mau ke Tokyo Skytree Tower. Tapi karena lelah, saya malah ke Asakusa yang searah.

Saya pernah ke kuil Asakusa sebelumnya, tapi itu di malam hari. Datang ke sana di saat hari masih terang punya kesan yang berbeda. Jalanan menuju kuil lebih ramai, dan sesak oleh pengunjung. Souvenir yang dijual di sana rata-rata harganya sama, tapi saya menemukan satu yang paling murah di antara lainnya. Saya sekalian beli oleh-oleh di situ. Kalau saya perhatikan, toko yang paling ramai memang toko souvenir murah-meriah receh yang menjual macam gantungan kunci, magnet, dan lainnya. Kedai jajanan juga laris. Toko-toko yang sepi biasanya yang menjual cinderamata khas Jepang dengan kualitas bagus yang harganya belasan hingga puluhan ribu yen. Malah saya sempat melihat toko yang saking sepinya, penjaganya yang nenek-nenek sampai ketiduran. Padahal suasana di sepanjang jalan di depannya penuh orang lalu-lalang.


Asakusa sore hari

Menjauhi jalan utama, saya berbelok masuk ke jalanan yang lebih sepi. Ada satu kedai di pojokan yang dipenuhi orang-orang yang mengantri. Ternyata yang dijual adalah melonpan. Tanpa pikir panjang, saya langsung ikut mengantri.

 Melonpan kesukaan oshi


 Tokyo Skytree Tower terlihat dari Asakusa

Melonpan adalah roti kesukaan Matsui Rena. She was my oshi in SKE48 before she announced her graduation from the group last year. Di Jakarta juga ada melonpan – saya mencicipinya beberapa kali di Pan Ya, demi – tapi mencobanya langsung di Jepang jadi lebih seru. Kedai melonpan di Asakusa tadi menawarkan berbagai variasi melopan: mulai dari yang polos sampai yang diisi es krim. Saya pilih yang terakhir itu.

Ukuran melonpannya terbilang lumayan besar; bikin kenyang. Selain lebih besar dari yang biasa saya makan di Pan Ya, rasanya juga lebih manis bahkan tanpa es krim sekalipun. Melonpan di Pan Ya rasanya lebih plain. Yang paling saya suka, tekstur luarnya itu krispi. Es krimnya juga enak; meleleh-leleh sampai ke tangan. Melonpan ini pasti lebih enak kalau porsinya dikurangi sedikit. Eh, itu sih menurut saya ya…

Di jalan pulang ke hotel, saya melihat ada warung kecil dengan menu ayam karaage atau ayam goreng khas Jepang, biasanya dengan dibalur tepung. Saya memang sudah kenyang makan melonpan, tapi malam masih panjang dan saya malas kalau tiba-tiba lapar tengah malam. Akhirnya saya pesan ayam goreng untuk dibawa ke hotel. Ketika saya mengatakan ingin memesan “chicken karaage”, penjualnya yang bapak-bapak tidak tahu artinya “chicken”. Tetiba saya teringat dari Majisuka Gakuen kalau Bahasa Jepangnya ayam adalah “tori. Baru setelah saya bilang “tori karaage”, si penjual mulai ngeh. 

Beli ayam karaage di sini

Sebelum tidur, saya packing dengan  mellow karena waktu terasa cepat di sana. Saya masih ingin ke Akihabara lagi. T_T

Menulis Ulang Jepang (4): Hunting pp dan Mencoba Onsen




Sabtu, 10 September 2016, pagi-pagi saya sudah mencuci baju di coin laundry yang tersedia di hotel. Well, karena niat untuk light traveling, saya memang tidak membawa banyak pakaian. Coin laundry di Tokyo sangat efisien dan praktis. Butuh total waktu satu jam untuk mencuci dan mengeringkan pakaian. Jeans saya yang lembab karena hujan-hujanan di Akihabara langsung jadi wangi dan kering maksimal.

Hari itu saya ke Shibuya untuk melihat Hachiko. Mungkin karena Sabtu, saya lihat banyak anak kecil di kereta. Kereta juga lebih penuh dari hari biasa di luar peak hours. Sampai di Stasiun Shibuya, saya mencari Hachiko Exit tapi tidak juga menemukannya. Akhirnya saya tanya seseorang, dan dia mengantarkan saya langsung sampai keluar stasiun. Saya sudah sering dengar orang Jepang dikenal paling juara kalau kita menanyakan alamat – mereka akan sebisa mungkin membantu kita – tapi tetap saja saya amazed.


Shibuya yang ramai

Di luar stasiun, orang-orang ramai menonton live performance. Sementara di pojokan orang berkerumun di depan patung Hachiko, anjing yang dikenal karena kesetiannya. Patungnya kecil, tidak mencolok, dan orang-orang justru tertarik dengan kucing yang disengaja ditaruh di bawah patung.

Wait.

Yes, you read it right. Ada bapak-bapak yang sengaja menaruh kucing di sana. Awalnya satu, kemudian lama-lama tiga anak kucing sekaligus yang super imut. Orang-orang justru fokusnya ke kucing-kucing tadi, bukan patung Hachiko. XD

 Hachiko vs kucing


Selain Hachiko, Shibuya juga terkenal dengan perempatannya yang selalu ramai oleh penyeberang jalan. Supaya sah, saya ikutan menyeberang juga hehe.. Seperti lazimnya tempat-tempat ramai di Jepang, Shibuya juga penuh dengan berbagai jenis poster di gedung-gedungnya. Poster HKT48 tersempil di antaranya, dan..as expected ada foto Miyawaki Sakura. Seriusan deh, member yang paling sering saya lihat di Tokyo itu justru Sakura, bukannya Mayu. Is this the sign?!

 Before vs after

Shibuya dilihat dari atas

Untuk makan siang, saya ingin makan ramen. Tapi sayangnya semuanya pork, tidak ada yang beef. Sampai tiga kedai ramen saya datangi, tidak ada yang saya inginkan. Yasudah, akhirnya saya makan soba dengan ebi.

Dari Shibuya, saya ke Akihabara. Iya, saya memang niat ke Akihabara dua kali. Sehari ke sana rasanya belum cukup. Seorang teman yang minta dicarikan foto Matsui Jurina bilang kalau di Akihabara ada toko-toko yang khusus menjual foto AKB48. Nama tokonya adalah Liberty dan khas dengan plang warna hijaunya. Ada beberapa Liberty di Akihabara. Si teman juga bilang kalau CD/DVD murah bisa didapatkan Book-Off. Konon harga di sana murah karena merupakan barang second, meskipun CD/DVD-nya sendiri masih baru. Pembedanya, tidak ada bonus foto yang biasa didapat kalau kita beli CD/DVD AKB48. Selain CD/DVD second, Book-Off juga menjual yang baru.


Ke Akihabara lagi

 Book-off, tempat jualan CD/DVD murah

Toko Liberty yang pertama dekat dengan AKB48 Café and Shop. Ternyata betul di sana dijual segala macam foto member 48Group dan 46Group. Dari yang harganya murah (ratusan yen) dan digantung dengan ratusan foto lainnya sampai yang mahal (ribuan yen) dan ditaruh di display kaca. Foto yang mahal biasanya yang rare atau limited edition.

Foto Jurina banyak, tapi tidak ada yang spesifik yang teman saya inginkan. Anehnya, foto Matsui Rena – yang tahun kemarin baru graduate dari SKE48 – justru sangat jarang. Saya memilih beberapa foto yang oke: Matsui Jurina, Shimazaki Haruka, dan Fukushi Nao. Dari Liberty, saya ke Book-Off dan membeli CD Mae no Meri di sana. Saking banyaknya CD/DVD 48Group, Book-Off sampai punya beberapa rak khusus untuk mereka! Sama seperti di Tsutaya, CD terbaru SKE48 tidak ada yang bersampul Jurina, padahal itu yang saya cari. Entah kenapa.

Setelah ke Book-Off, saya ke Liberty selanjutnya yang dekat dengan teater AKB48. Tempatnya lebih rapi dan foto-fotonya lebih variatif dan banyak yang lucu. Lagi-lagi tidak ada foto Jurina seperti yang diinginkan teman saya, tapi foto dia yang lain ada banyak.  Kalau di Liberty sebelumnya foto Rena hanya sedikit, di toko ini malah tidak ada foto Rena. Satu-satunya yang ada adalah dia saat sedang foto bareng Team E. Saya beli foto itu. Saya juga beli foto Watanabe Mayu dan Mukaichi Mion. Untuk foto yang terakhir itu saya merasa beruntung, karena Mion difoto dengan kostum Bokutachi wa Tatakawanai. Harganya juga standar, tidak terlalu mahal. Ada dua toko Liberty lain yang saya datangi, masih di area yang sama. Tapi ternyata mereka tidak menjual foto idol. Salah satunya malah menjual miniatur kereta yang mengingatkan saya pada densha otaku atau kumpulan orang penggemar kereta.

Saya ke Teater AKB48 lagi tapi sayang sedang ditutup karena tidak ada pertunjukan hari itu. Jadi eskalator yang menuju lantai 8F bahkan dimatikan dan dipasangi tanda. Untung kemarin teater masih buka.

 Pas ke sana lagi, pas tutup

Di Don Quixote game center banyak yang lucu-lucu seperti ini

Persis di lantai bawah Don Quixote ada semacam kedai yang menjual barbeque. Saya beli sepotong japanese beef seharga 1000 yen. Meskipun jajanan mahal, but it’s worth it for every bite! Enaknya keterlaluan! Rasa beef-nya super empuk namun tetap juicy. Lelehan lemak yang menetes-netes karena panas juga bikin tambah enak. Bumbunya minimalis tapi menjadikan gurihnya asli. It’s a must!

 INI ENAK BANGET!

Sudah sore ketika saya pulang ke hotel. Tak sengaja saya menemukan resto CoCo Ichiban yang di-endorse SKE48 di dekat Stasiun Minami-senju. Chain resto ini ada juga di Jakarta, tepatnya di Gran Indonesia. Curry di CoCo Ichiban adalah favorit saya, jadi saya senang ketika bisa mencicipinya di negara asalnya. Sama seperti selalu, saya pilih curry dengan ayam karaage. Konsep dan rasa curry di CoCo Ichiban Tokyo tak beda jauh dengan yang ada di Jakarta. Bahkan saya rasa lebih enak yang di Jakarta. 

 Nemu CoCo Ichiban

Meskipun seharian ini saya jalan-jalan terus, saya merasa lebih enakan dibanding dua hari kemarin. Masih ingat dengan suplemen penambah darah yang saya minum? Hari itu saya tidak meminumnya dan justru merasa baikan. Setelah baca-baca, saya baru tahu kalau salah satu efek samping suplemen itu adalah mual-mual. Mungkin memang seharusnya langsung istirahat begitu minum suplemen tersebut. Lesson learned: tidak minum suplemen itu lagi sebelum jalan-jalan.

Malamnya, saya coba private onsen di Juyoh. Jadi hotel tempat saya menginap ini memang punya fasilitas onsen pribadi di lantai 10. Dengan membayar 300 yen, kita bisa berendam di air panas selama satu jam. Saya dapat antrian untuk pukul 20.30.

Lima menit sebelum waktu yang ditentukan, saya ke lobi untuk mengambil kunci untuk masuk ke ruangan onsen. Saya sudah pernah melihat fotonya di Booking.com, tapi melihatnya secara langsung memang beda. Tempatnya lebih bagus dari yang saya bayangkan.

Saya pikir begitu membuka pintu, langsung sudah ada onsen di hadapan. Ternyata tidak. Jadi begitu masuk ruangan onsen, ada jalan yang diberi kerikil putih dengan beberapa lempeng batuan berwarna abu-abu membentuk jalan setapak. Ada lampu di ujung kiri-kanan, agak temaram. Di sebelah kanan ada ruang terbuka – dibatasi dinding kaca – dengan  akses tertutup jadi aman karena tidak bakalan ada orang lewat.

Setelah jalan berkerikil tadi, ada tempat kecil untuk menaruh baju. Ada kipas angin dan AC juga. Di sebelah kanan tempat tadi, barulah ruangan untuk onsen. Ada shower dengan tempat duduk kecil dan ember kayu. Sebelum masuk ke bak air panas, kita memang disarankan mandi terlebih dulu. Setelah bersih baru boleh masuk bak. Bak onsen ini berwarna hijau, berbentuk lingkaran. Air di dalamnya panasnya pas. Ketika saya lihat di gambar, saya pikir bak ini kecil. Ternyata lumayan besar dan dalam juga, bisa muat untuk dua orang .___.

Setelah 30 menit berendam di situ, saya mulai tidak betah. Bukan saja karena bosan, tapi hawa panas juga membuat udara pengap. Well, saya baru paham itulah kenapa ada AC di ruangan. Onsen sebenarnya memang seharusnya untuk berendam ramai-ramai. Jadi bisa sambil ngobrol. Apalagi kalau modelnya di luar ruangan, bisa sambil menikmati pemandangan. Sekitar 10 menit kemudian, saya keluar dari bak. Sisa waktu yang ada saya gunakan untuk refleksi kaki di jalan setapak tadi. Ada besi penopang di dinding sebelah kiri untuk menahan kalau-kalau terlalu sakit berjalan di atas kerikil.