Pages

Thursday, 24 May 2012

No Other but ‘No Other’

Sebulan belakangan ini, saya sedang demam lagu Korea. Saya memakai kata ‘lagu’ – bukan ‘lagu-lagu’ – karena memang hanya ada satu lagu yang terus terputar di kepala saya sepanjang hari. Kalau ada semacam Top 40 versi saya, lagu itu pasti sudah kokoh bertengger sebagai jawara.

Lagu ini berjudul ‘No Other’, dari boyband yang sedang booming asal Korea; boyband yang tengah digilai perempuan-perempuan muda Asia, termasuk Indonesia. 10 poin untuk yang menebak Super Junior! 100 poin bagi yang sudah tahu lagunya!

Lucunya, lagu ini justru tak sengaja saya temukan ketika sedang mencari alasan kenapa orang  bisa tergila-gila dengan Super Junior.

Well, saya bukanlah penggemar K-Pop. Ketika Korean Wave melanda, saya masih sering searching di YouTube tentang telenovela ala Meksiko di tahun 90-an. Ketika boyband dan girlband Korea mendadak populer dan melibas dominasi boy/girlband dari Amerika atau Eropa, saya masih setia mendengarkan lagu-lagu Westlife, BSB, dan Boyzone.

Saya sudah sering mendengar nama Super Junior – segala hal tentang mereka bahkan beberapa kali merajai trending topic worlwide di twitter – , tapi gaungnya semakin terdengar ketika mereka akan menggelar konser di Jakarta pada 27-29 April 2012. Media, baik cetak atau elektronik, ramai memberitakan kedatangan Super Junior. Histeria fans fanatiknya membuat saya bertanya-tanya: apa istimewanya Super Junior?

Sebelumnya, pengetahuan saya tentang Super Junior terbatas pada asal negara dan jumlah personelnya yang belasan (yang bahkan saya tidak tahu pasti ada berapa). Tapi akan aneh kalau saya sudah memicingkan sebelah mata duluan sebelum melihat penampilan mereka. Ketika saya mengetik ‘Super Junior’ dalam mesin pencari di YouTube, lagu ‘No Other’ muncul di laman pertama.

Dan oh, saya langsung jatuh cinta dengan lagu itu!


Hmmm…baiklah, ini saya tampilkan video ‘No Other’ dari YouTube supaya kita punya tontonan yang sama, sebelum saya cerita lebih jauh.


*) lebih baik menonton langsung di YouTube untuk kualitas video yang lebih baik

Awalnya Siwon-lah yang mencuri hati saya dengan senyumnya, dengan matanya, dengan kemeja kotak-kotaknya… Kemudian saya coba googling arti lagu itu, semakin dalam suka saya. Saking seringnya video ‘No Other’ ini diputar, lama kelamaan saya hapal nama anggota Super Junior karena mulai familiar dengan wajah-wajah mereka. Setelah Siwon, Kyuhyun sempat hampir jadi favorit saya, sebelum akhirnya Donghae yang merebut posisi tersebut. Kalau ada yang belum tahu yang mana Donghae, dia adalah pria dengan setangkai bunga mawar yang mulai menyanyi solo di detik 53.

‘No Other’ adalah lagu yang sangat manis. Errr…beberapa personel Super Junior terlihat ‘terlalu manis’ dalam video klip tersebut. Bukan masalah buat saya, karena toh yang saya perhatikan di sepanjang video hanya Donghae dan Siwon, selain lagunya yang enak didengar, tentu saja.

Setelah ‘No Other’, saya mulai mencari lagu-lagu Super Junior yang lainnya. Rata-rata enak didengar dengan temponya yang cepat. Gaya menari mereka juga enak dilihat. Tapi belum ada yang bisa menggeser ‘No Other’.

Mungkin lagu ini masih akan stuck di kepala saya sampai beberapa minggu ke depan. Sampai saat itu, mungkin benar saya sedang demam Korea.

Dan oh, sekarang saya sudah tahu alasan tergila-gilanya fans pada Super Junior.

Sunday, 13 May 2012

Empat yang Tertunda

April yang lalu – tepatnya tanggal 4 – adalah ulang tahun pertama blog ini. Saya sengaja tidak menulis satu postingan-pun, sebagai bentuk kontemplasi.

*hening*

Bohong dink, terutama di bagian kontemplasinya.

#iLied Meme

Jadi, bulan kemarin itu saya sedang sibuk-sibuknya di kantor. Ada banyak acara, ada banyak yang harus dikerjakan. Jangankan menulis di blog, baca buku saja jarang. Nonton film, apalagi. Buku TOEFL iBT terbitan Kaplan setebal 402 halaman nyaris tak tersentuh, padahal saya punya target menyelesaikannya sampai akhir Mei. Saya mentok di halaman 50 sampai detik saya menulis ini. Akhir pekan juga habis untuk mengerjakan pekerjaan kantor. Intinya, saya sedang sibuk.

Saya punya banyak cerita untuk dijadikan tulisan. Tapi karena sudah lewat dari sebulan – cerita pertama bahkan ada di akhir Maret –, saya putuskan untuk merangkumnya untuk dijadikan satu postingan. Ini beberapa di antaranya:

Serbuan Kantuk

Senin petang. 26 Maret 2012. Saya pergi ke sebuah hotel di kawasan Thamrin, menemui seorang teman di sana, sebelum esok harinya dia bertolak ke Amerika. Saya bawa dua kotak Four Fingers, satu untuknya, dan satu lagi untuk seorang teman yang tak lama datang menyusul. Kami berencana menghabiskan malam dengan makan dan nonton bareng, tipikal hang out a la kami.

Hujan yang turun deras hingga malam turun membuat kami agak menunda waktu, sebelum akhirnya ke Grand Indonesia naik taksi. Puas memutari Grand Indonesia dan Plaza Indonesia, kami ke EX untuk membeli tiket bioskop. The Raid jadi film pilihan kami, lebih karena banyaknya review yang menyanjung-nyanjung film itu. Film laga bukan tipe film saya, sebenarnya. Tapi tak apalah untuk kali ini saja. Dan untuk kali itu juga, alih-alih membeli tiket XXI, kami membeli tiket The Premiere untuk jadwal jam 21.55. Sembari menunggu, kami makan sambil mengobrol ini-itu.


Menjelang pukul sepuluh malam, kami sudah duduk di kursi bioskop sesuai nomor yang tertera pada tiket. Beberapa orang sudah ada di dalam, kebanyakan sih couple *iri*. Ini kali pertama saya nonton di The Premiere, setelah sebelumnya hanya tahu teater film ini dari iklan. Lirik kiri-kanan, saya perhatikan bagaimana cara membuat kursi jadi memanjang seperti tempat tidur. Selimut saya ambil dari laci meja di sebelah kiri kursi. AC yang dingin membuat saya menyelimuti tubuh mulai dari dada hingga ujung kaki. Tempat seperti ini sih cocoknya dikunjungi bareng pacar sambil nonton film romantis. Eh..

Film The Raid (yang di-Indonesia-kan sebagai Serbuan Maut) bukan film romantis, tentu saja. Di menit-menit awal, saya sudah menutup mata saking adegannya yang sadis. Duh! Saya akui The Raid adalah film yang dahsyat. Dentuman, bising peluru, cabikan, suara pukulan, tendangan, terdengar detail dan realistis. Kalau ada yang kurang, mungkin dialognya yang kurang kuat. Tapi siapa mau peduli jika sudah terpesona dengan gaya tarung Iko Uwais?

Betapapun serunya perkelahian dalam layar besar di depan, kombinasi AC yang sejuk, selimut yang hangat, dan waktu yang merambat mendekati tengah malam, membuat mata saya tak kuat menahan kantuk. Berkali-kali terjaga, berkali-kali pula kalah dengan godaan untuk sejenak keluar dari semua tokoh dan adegan dalam layar. Puncaknya, saya sukses terlelap justru di adegan klimaks ketika Rama bertarung dengan Mad Dog.

-_______-

Saya terbangun ketika closing credit mulai muncul. Saya bahkan mesti bertanya pada teman tentang bagaimana Rama bisa mengalahkan lawan utamanya itu. Saran saya, kalau ingin menonton di The Premiere, jangan di jam-jam menjelang tengah malam. Mengantuk itu pasti, tertidur itu akibat.

Kuis Tebak Halaman Donal Bebek

Februari. Nuansa pusat-pusat perbelanjaan masih didominasi merah muda. Pun dengan salah satu toko buku langganan saya. Tak seperti biasanya, saya melangkah menuju rak tempat majalah edisi terbaru dijejer. Pandangan saya langsung tertuju pada majalah Donal Bebek edisi Valentine. Di sudut kiri atas majalah itu, ada gambar teropong bintang sebagai hadiah kuis Tebak Halaman. Saya langsung teringat dengan Nanda, adik lelaki saya. Sudah lama dia ingin teropong bintang, dan saya menjanjikannya teropong itu kalau dia bisa lulus SMP dengan nilai bagus. Saya beli majalah Donal Bebek untuk mengikuti kuis itu. Target utama saya teropong bintang, tentu saja. Kalau menang, sudah saya niatkan untuk Nanda.

Saya baca petunjuk dalam kuis, dan terpikir untuk membuat postcard sendiri agar terlihat berbeda. Saya buat dua postcard, satu untuk kuis Tebak Halaman, dan satunya lagi untuk Kuis The Muppets. Setelah mengirim lewat pos, saya tinggal menunggu pengumumannya di awal April.


Terlepas dari niat saya membeli majalah untuk mengikuti kuis, Donal Bebek pernah dekat dengan masa kecil saya, selain Bobo. Saya bahkan punya satu bendel kumpulan majalahnya. Membaca majalah ini, seperti menyelam ke masa lalu. Dialog dan font-nya yang khas nyaris tak berubah. Karakternya juga sama seperti yang saya kenal bertahun-tahun lalu.

Senin pagi, 9 April 2012. Sebelum ke bandara untuk urusan pekerjaan, saya sempatkan ke kios untuk membeli edisi terbaru majalah Donal Bebek. Hari itu pengumuman pemenang kuis. Begitu duduk di kursi Damri, saya langsung sobek plastik pembungkusnya. Saya buka halaman demi halaman, dan mendapati nama seorang lelaki memenangkan hadiah teropong bintang.

Hati saya hampir jatuh, ketika saya lihat nama saya terpampang di ujung kanan halaman. I win a tablet PC, Baby! YAY! Iya, alih-alih teropong bintang, saya memenangkan sebuah tablet PC.


Senin berikutnya, sebuah paket sampai di meja kerja saya. Dari majalah Donal Bebek. Akhir pekan itu, saya pulang ke rumah. Sesuai dengan niat awal, hadiah kuis itu saya berikan untuk Nanda.

Jakarta Opera Gala Concert

Saya beruntung punya teman yang update soal konser musik di Jakarta. Adalah Mbak Tami – yang lagi-lagi – memberi info soal Jakarta Opera Gala Concert yang diadakan pada 15 April 2012, di Bali Room, Hotel Indonesia Kempinski. Bersama dua orang teman yang lain, kami berempat sudah booking tiket jauh-jauh hari sebelumnya. Kami beli tiket paling murah, demi bisa menabung untuk menonton konser-konser lain serupa.

Minggu malam itu, kami bertemu di lobi depan Bali Room. Dengan mengantongi tiket paling murah, kami duduk di kursi paling belakang. Tak terlalu jadi masalah sih, karena banyak kursi kosong di tengah sehingga pandangan kami tak terhalang. Seorang teman terlambat akibat terjebak macet, hingga mesti masuk di sela-sela pergantian lagu.

Saya beberapa kali menonton konser musik klasik, tapi ini pertama kalinya saya menonton opera. Sebelum adegan dimulai, ada narasi yang dibacakan sehingga penonton tahu maksud lagunya. Sayangnya, suara yang terdengar seperti teredam. Tidak sejernih konser-konser klasik lain yang saya tonton. Kalau kata Mbak Tami, itu karena gedungnya bukan gedung akustik. Beda seperti Aula Simfonia tempat kami sebelumnya menonton konser.

Para penyanyi yang berakting di depan memakai baju-baju gaya masa lampau; zaman para pria memakai wig bergelung warna putih. Perhatian saya baru sepenuhnya tercuri ketika Via Resti Servita dimainkan. Meski tak paham sama sekali dengan bahasanya, saya bisa menikmati lagu itu lewat gerak tubuh penyanyinya. Selain lagu itu, The Telephone di sesi kedua juga sama berkesannya. Di antara semua penyanyi, yang paling menyedot perhatian adalah Suzanne Shakespeare; soprano solois di Sydney Opera House. Suaranya yang jernih melengking tinggi selalu diberi apresiasi tinggi oleh penonton.

Konser di bawah arahan Avip Priatna ini juga menghadirkan Jakarta Concert Orchestra, Batavia Madrigal Singers, Farman Purnama (tenor), Rainier Revireino (bariton), BMS Solis Ensemble, The Resonanz Children Choir, serta penyanyi lainnya.

First in English First

Saya punya target pribadi seputar belajar Bahasa Inggris. Buku latihan soal, sudah dibeli. Kamus bergambar terbitan Oxford untuk memperkaya kosakata, juga sudah ada. Tapi rasanya kurang sah kalau tidak ikut les untuk melatih berbicara. Kebetulan di dekat kosan, baru dibuka EnglishFirst (EF). Waktu tempuh yang cuma 20 menit berjalan kaki dari kosan membuat saya tertarik untuk belajar di sana. Apalagi sebagian besar pengajarnya adalah native speaker. Setelah beberapa kali tanya-tanya mulai dari harga, jadwal hingga ikut placement test, akhirnya saya memulai les hari pertama pada Senin tanggal 16 April 2012.

Dalam seminggu, ada tiga jadwal dengan jeda satu hari. Dimulai jam 7 malam, kelas berakhir setelah 80 menit. Satu kelas ada enam orang. Rata-rata sudah bekerja, kecuali satu yang masih sekolah.

Kami sedang duduk-duduk di depan kelas, ketika seorang perempuan muda berambut pirang menyapa. Dari textbook yang dia bawa, tahulah kami bahwa dia adalah pengajar di kelas ini. Di menit-menit pertama dia memperkenalkan diri, banyak kata yang hilang sebelum masuk ke telinga saya. Bicaranya cepat, aksennya tak bisa saya baca.

Yang saya tahu dari perkenalan singkat itu, nama pengajar kami adalah Laura. Dia berasal dari Inggris, di sebuah kota dekat Newcastle. Baru beberapa minggu dia di Indonesia, setelah sebelumnya – kalau tidak salah ingat – dia mengajar di Sri Lanka dan Malaysia.

Di pertemuan pertama itu, kami membahas tentang The Spice of Life. Kami saling bertanya tentang makanan favorit, dan juga membahas makanan khas dari sebuah negara berikut perbandingannya dengan negara lain. Ini tema yang agak sulit buat saya, mengingat saya terlalu cinta masakan Indonesia. Tanyakan rasa sushi, misalnya, saya tak bisa menjawab. Mencicipinya saja tak pernah -_______-

Di pertemuan-pertemuan selanjutnya, telinga saya sudah lebih akrab dengan aksen Laura. Setelah beberapa pertemuan, saya bisa membedakan aksen dia yang ‘utara’, dengan aksen Inggris yang ‘selatan’. Saya juga mulai bisa menangkap aksen yang khas ‘Ratu Inggris’. Sepanjang yang saya tahu, sebagian besar pengajar di EF tempat saya belajar berasal dari UK. Seorang pengajar dari daerah selatan Inggris punya aksen yang jauh lebih susah dipahami ketimbang aksen yang biasa saya dengar dari Laura. Temponya lebih cepat, dan antara satu kata dengan yang lainnya hampir-hampir tak berjeda. Dari pertemuan-pertemuan itu juga, saya jadi tahu beda American English dengan British English. Mulai dari istilah sampai pelafalannya.

Saya paling suka dengan games sebelum atau sesudah pertemuan. Itu membuat kelas jadi lebih hidup. Yang paling terasa dari les ini adalah bertambahnya kosakata yang saya ingat di setiap pertemuan. Dan yang paling penting, berinteraksi langsung dengan native speaker memang beda. Saya jadi lebih terbiasa dengan aksennya. Minimal, melatih listening saya.

Well, itulah empat cerita yang sudah ingin saya bagi dari bulan kemarin. Bulan Mei ini membuat saya bersemangat karena libur panjang di tengah bulan. Can’t wait for long holiday!

Saturday, 31 March 2012

“If Things Were Easy to Find, They Wouldn’t be Worth Finding”

Sepertinya, awalnya terlihat terlalu mudah.

Ah, sebelum saya berbicara tak tentu arah, ijinkan saya melongok ke dalam pensieve; mencoba mundur beberapa minggu ke belakang. Saya pernah bilang kalau tahun ini ingin fokus mengejar beasiswa. Mengejar. Mungkin kata kerja ini cocok untuk menggambarkan usaha mendapatkan sesuatu yang melesat jauh di depan. Berkejaran dengan waktu, istilahnya.

Jika ingin mendapatkan beasiswa, siapkan dari setahun sebelumnya. Serius. Kalau perlu, buat dateline kapan untuk tes TOEFL/IELTS (plus perkiraan untuk mengulang jika nilainya belum mencukupi), kapan untuk mendaftar universitas untuk memperoleh admission letter (beasiswa dari Pemerintah Belanda menjadikan ini sebagai salah satu syarat), serta kapan untuk mendaftar beasiswa (beberapa beasiswa menggunakan sistem online; usahakan jangan mepet dengan deadline ketika mendaftar karena jaringan dikhawatirkan sedang lambat).

Saya mendapatkan hasil TOEFL iBT tanggal 14 Februari 2012. Beasiswa yang di depan mata adalah StuNed (Studeren in Nederland) yang – terlihat dari namanya – merupakan beasiswa ke Belanda. Deadline StuNed adalah 15 Maret. Waktu sebulan untuk mengurus ini itu, termasuk mendaftar ke universitas di Belanda untuk mendapatkan admission letter, sepertinya agak mustahil. Untuk mengirim aplikasi pendaftaran ke sana saja sudah butuh waktu. Apalagi, kalau sebelumnya kita mesti menerjemahkan dulu semua dokumen yang dibutuhkan menggunakan jasa penerjemah tersumpah ditambah harus mendapatkan legalisir dari pihak kampus (dan sekolah menengah atas) tempat kita kuliah dulu.

Dengan hitung-hitungan waktu yang rasanya tak mungkin, saya toh tetap mendaftar di salah satu universitas di sana. Nothing to lose. Setidaknya saya tidak tak mendaftar sama sekali dan menunggu tahun ini lewat begitu saja. Memang masih ada beasiswa dari negara lain, tapi ini Belanda! Berada di Eropa Barat, Negeri Tulip ini dekat dengan negara-negara maju lainnya; berbatasan dengan Belgia dan Jerman. Agak ke selatan ‘sedikit’, ada Prancis, Swiss, sebut sajalah. Sejak dulu Eropa selalu bisa membuat saya terpesona, lebih daripada Amerika. Tak berlebihan jika saya ingin pergi ke Eropa suatu saat nanti, atau kalau beruntung, bisa sekolah di sana.

Sebenarnya, University of Amsterdam dengan master di bidang komunikasi-nya lebih dulu menarik minat saya. Sayangnya, nilai TOEFL saya kurang dua poin dari yang disyaratkan. Pilihan universitas pun jatuh pada Saxion University of Applied Sciences. Tak ada master untuk komunikasi di sana. Tak apa. Saya pilih master in management, dengan asumsi itu lebih bisa dimengerti ketimbang master di bidang perencanaan pembangunan, misalnya.

Yang saya sukai dari Saxion adalah kemudahan untuk mendaftar di sana. Di saat universitas lain tetap bersikukuh dengan pengiriman aplikasi pendaftaran konvensional lewat pos, Saxion terbuka untuk menerima pendaftaran online. Cepat, mudah, murah.

Saxion memiliki tiga tempat untuk kuliah: Deventer, Enschede, dan Apeldoorn. Master in management ada di Deventer. Saya langsung google tempat itu. Di antara banyaknya informasi tentang Deventer, yang paling saya minati adalah adanya festival buku tahunan di sana, yang disebut-sebut sebagai yang terbesar di Eropa. Saya langsung suka dengan kota itu.

28 Februari 2012, saya mendaftar di Saxion. Saya mendapat lembar registrasi yang harus dikirim dengan berkas-berkas lain, termasuk terjemahan ijazah dan transkrip nilai SMA dan kuliah, CV, paspor, dan motivation letter. Saya sertakan juga nilai online TOEFL iBT dalam bentuk softcopy, meskipun sebenarnya Saxion minta lembar original. Sementara mengirim itu semua, saya memesan tambahan original TOEFL iBT dari ETS untuk dikirimkan langsung ke Saxion.

Sepuluh hari sejak saat itu, sebuah email dari Saxion masuk ke inbox. 9 Maret 2012. Saya buka dengan terburu, hanya untuk mengetahui informasi jika Saxion sudah menerima berkas yang saya kirim. Saxion menjelaskan tentang syarat utama untuk mendapat admission letter, salah satunya adalah latar belakang S1 harus sesuai dengan program yang diambil. S1 saya bukan ekonomi, jadi saya simpulkan kalau saya tak mungkin bisa menembus Saxion.

Saya sudah tak mengingat-ingat Saxion lagi ketika sebuah email dari universitas itu kembali muncul. 21 Maret 2012. Dengan subject ‘Admission University of Applied Sciences’, email ini sukses membuat saya deg-degan.

Saya baca dengan cepat, dan mata saya terpaku pada satu kalimat ini:

We look forward to meeting you as one of our international students.”

Saya dapat admission letter dari Saxion!

Kegembiraan saya tak lama mengingat deadline Stuned sudah lewat seminggu sebelumnya. Saya buka website NESO Indonesia, dan mencoba mencari-cari beasiswa lain dengan deadline yang masih panjang. Dapat! Beasiswa NFP (The Netherlands Fellowship Programmes) masih membuka pendaftaran hingga 1 Mei 2012. Menariknya, beasiswa ini diprioritaskan untuk perempuan. Beda dengan Stuned dimana kita bisa daftar di mana saja di Belanda, NFP hanya bekerja sama dengan universitas-universitas tertentu. Yang lebih hebat, Saxion masuk dalam daftar itu!

Seperti yang saya bilang di awal postingan ini, awalnya semua kelihatan terlalu mudah. Maksudnya, mendapatkan admission letter saja bukan perkara sederhana. Beberapa orang mesti mengirim puluhan atau ratusan aplikasi ke berbagai universitas agar kesempatan diterimanya lebih besar. Seorang teman di kantor bahkan mesti menunggu berbulan-bulan tanpa kabar. Deadline NFP yang masih agak lowong juga membuat saya punya waktu lebih luang untuk mempersiapkan pendaftaran beasiswa, termasuk menyiapkan surat ijin dari kantor dan sebagainya.

Semuanya terlihat terlalu mudah, hingga saya sadar kalau NFP mensyaratkan unconditional admission letter; padahal saya masih harus mengirimkan dua berkas lagi (softcopy ijazah dan transkrip kuliah original, serta hasil TOEFL iBT dari ETS) untuk mendapatkan surat penerimaan tanpa syarat dari Saxion.

26 Maret 2012, saya kirimkan berkas yang kurang, termasuk scan hasil TOEFL iBT original saya. Hasil TOEFL dari ETS belum juga sampai ke Saxion, padahal sudah hampir satu bulan. Saya jelaskan pada Saxion, dan dua hari kemudian, email saya dibalas. Saya sungguh suka dengan respon cepat yang mereka berikan. Mereka bilang akan menambahkan berkas ke dalam file saya, namun tetap butuh TOEFL dari ETS supaya bisa memberikan unconditional admission letter.

Hari itu juga, saya hubungi ETS. Tak butuh 24 jam, ETS mengirimkan balasan. Dikatakan, butuh waktu 7-10 hari kerja untuk mengirim hasil tes ke Amerika Serikat, dan butuh tambahan waktu sampai 4 minggu untuk mengirimkannya ke luar Amerika. Dari hitung-hitungan itu, TOEFL saya mungkin baru sampai di pertengahan April. Masih ada waktu sampai deadline tanggal 1 Mei.

Jumat 31 Maret 2012, sebuah surat sampai di meja kerja. Saya tak bisa menahan senang melihat logo di amplop surat. Dari Saxion. Tepat 10 hari sejak mengirim admission letter lewat email, Saxion mengirim surat resminya lewat pos. 


Semuanya terlihat mudah untuk seseorang yang pertama kali ingin mendaftar beasiswa.

Entah kenapa, ada rasa tak yakin dengan ‘kemudahan’ ini. Dulu saya mesti merasakan ditolak sebuah sekolah tinggi akuntansi sebelum kuliah di kampus almamater saya. Pun, saya merasakan ditolak perusahaan media sebelum akhirnya kerja di tempat yang sekarang.

Beberapa menit sebelum pulang kerja di Jumat sore itu, saya baca kembali rules and regulation NFP untuk memastikan deadline­-nya. Memang benar 1 Mei 2012. Tapi hati seperti tertusuk ketika saya baca lebih detail lagi. Ternyata ada DUA deadline, 7 Februari dan 1 Mei. Antiklimaks sudah ketika Saxion termasuk dalam deadline gelombang pertama. Artinya, meskipun admission letter sudah dalam genggaman, saya tak mungkin bisa mendaftar beasiswa NFP. Rasanya seperti putus setelah pacaran sekian lama. Sakit. Lagi-lagi saya kalah mengejar waktu.

Jalan meraih beasiswa ternyata masih panjang. Tapi seperti yang bisa saya kutip dari film Extremely Loud and Incredibly Close: “If things were easy to find, they wouldn’t be worth finding.”

Monday, 19 March 2012

3 Tes, 1 Bulan, Banyak Tujuan (II)

TOEFL ITP – 9 Februari 2012

Selesai TOEFL iBT, saya langsung belajar untuk tes TOEFL ITP; terutama untuk Structure. Materi tes ini tidak ada di TOEFL iBT. Empat hari belajar memang sangat singkat, tapi saya tak punya banyak pilihan.

Saya lebih yakin dengan tes ini, karena sudah punya pengalaman sebelumnya. Saya ijin setengah hari dari kantor untuk Kamis itu. Saya ke Universitas Indonesia Salemba membawa pensil 2B, penghapus, rautan, dan alas untuk mengerjakan soal. Saya jadi ingat masa-masa dulu mengerjakan tes untuk melamar pekerjaan.

Belum terlalu banyak orang yang masuk ke ruangan. Atmosfer yang saya rasakan beda dengan tes TOEFL internasional. Lebih familiar, lebih akrab, lebih santai. Setelah pembacaan tata tertib, tes dimulai.

Listening jadi tes pembuka. Percakapan yang diperdengarkan berlangsung cepat. Hilang konsentrasi sedikit saja, akan kesulitan menemukan jawaban. Tes kedua adalah Structure. Tak belajar dari kesalahan mengerjakan  TOEFL iBT, saya berlama-lama di soal yang sulit. Mestinya saya langsung skip untuk soal yang lebih mudah terlebih dulu. Waktu terasa sangat singkat. Reading adalah yang terakhir; tak sesusah bacaan di TOEFL iBT.

Saya percaya, hasil tes ini tentu lebih baik dari tes TOEFL sebelumnya. Saya baru bisa mengetahui hasilnya 10 hari ke depan. Saya tak terlalu memikirkannya karena setelah TOEFL ITP, saya masih punya satu tes lagi yang harus diperjuangkan.


Tes Potensi Akademik – 11 Februari 2012

Kalau saya bilang belajar empat hari tidak cukup untuk tes TOEFL ITP, rasanya saya mestinya bilang mustahil belajar TPA dalam waktu dua hari. Tapi lagi-lagi pilihan saya terbatas. Untuk mengejar deadline beasiswa Kementerian Komunikasi dan Informatika di akhir bulan, saya harus tes dalam waktu yang berdekatan.

TPA sendiri sebenarnya tidak terlalu asing bagi saya. Saya lumayan familiar dengan jenis tes ini, terutama tiga tahunan lalu saat saya sedang semangat-semangatnya mencari kerja. Nyaris semua tempat mengandalkan tes ini sebagai penyeleksi awal. Saya beli satu buku kecil untuk latihan.

Tes diadakan di Sabtu pagi, di Bappenas. Ratusan orang tes di satu aula luas. Setelah daftar ulang, saya duduk di kursi yang sudah ditentukan.

Tes dimulai serentak. Soal-soal awal mudah, dan semakin lama semakin susah. Saya sampai pada satu titik ketika saya mempertanyakan ke-Indonesia-an kata-kata yang dijadikan soal saking saya tak pernah mendengarnya apalagi tahu artinya. Di bagian selanjutnya lebih seru lagi. Saya bertemu musuh lama saya: matematika, atau yang sejenisnya. Saya harus berpikir super cepat, kalau tak ingin menyisakan lingkaran-lingkaran tanpa jawaban. Bagian selanjutnya lebih mirip soal pelajaran Bahasa Indonesia. Gampang-gampang susah. Susah-susah gampang.

Tiga jam mengerjakan soal menguras energi saya. Tapi saya tahu, selesai TPA, saya sudah bebas dari tes-tes di Bulan Februari. Sabtu malam itu terasa berlipat-lipat lebih menyenangkan dibanding Sabtu-Sabtu sebelumnya. Saya kembali mengucap halo pada buku-buku, film-film, CD lagu-lagu yang beberapa minggu lalu tak pernah saya beri perhatian.

Saya menikmati hari-hari, setidaknya sampai hasil tes-tes itu keluar minggu berikutnya – yang ternyata tak selama yang saya bayangkan.

14 Februari. Di saat orang lain berdebar-debar mendapatkan coklat atau bunga, saya berdebar-debar mendapatkan email dari ETS – penyelenggara TOEFL internasional. Hasil TOEFL iBT sudah keluar! Saya buka email dengan cepat, dan sesaat mencoba memahami angka-angka dan kata-kata yang terpampang di layar depan saya. 79 adalah syarat minimal untuk mendaftar STUNED, nilai saya melebihi angka tersebut. Ini menjadi lebih menyenangkan bagi saya, karena terpikir untuk mencapai 79 pun tidak. Saya pikir saya akan berhenti di 6 sekian.

Mungkin ini adalah buah doa bapak-ibu di rumah.

Masih ada dua hasil tes lagi. Saya mengambilnya bersamaan di Jumat siang di minggu itu, setelah sebelumnya menelepon untuk memastikan hasilnya telah keluar. Yang pertama saya ambil adalah hasil TPA. Syarat minimal adalah 550, saya tipis melampaui angka itu. Dari Koperasi Bappenas, saya segera ke Universitas Indonesia Salemba. Melihat hasilnya, saya agak kecewa. Jika dikonversi, hasil TOEFL iBT saya bahkan lebih tinggi daripada hasil tes TOEFL ITP. Ini di luar perkiraan, karena saya anggap TOEFL internasional memiliki tingkat kesulitan yang lebih besar. Saya tidak bisa mendaftar beasiswa Kementerian Komunikasi dan Informatika yang mematok 580, meskipun masih bisa menggunakan hasil tes itu untuk mendaftar beasiswa AMINEF dan ADS.

Dengan ketiga hasil tes itu, saya belajar satu hal bahwa berburu beasiswa butuh waktu yang panjang. Seharusnya malah sudah dipersiapkan setahun sebelumnya. Dengan begitu, waktu belajar lebih panjang dan hasil bisa lebih maksimal.

Saya masih sibuk mengurus pendaftaran beasiswa yang lain. STUNED sudah lewat. Dengan waktu kurang dari sebulan (deadline STUNED 15 Maret), tidak mungkin mendapatkan Letter of Acceptance dari universitas di Belanda. Begitupun, masih ada beasiswa dari negara lain.

Kalau tahun ini tidak ada target yang tercapai, mungkin tahun depan. Kalau tahun depan masih belum juga, mungkin tahun depannya lagi. Tes-tes yang sudah saya lakukan hanyalah satu langkah dari ratusan langkah yang nantinya saya tempuh. Tapi untuk satu langkah kecil inipun, saya berterima kasih untuk semua dengan doa-doa.

3 Tes, 1 Bulan, Banyak Tujuan (I)


Saya sedang semangat mengejar beasiswa. Sejak dua bulan terakhir di tahun 2011, saya sudah mencari informasi tentang beasiswa yang ada, mulai dari Chevening, STUNED, ADS, hingga Fulbright. Saya print semua persyaratan yang ada, dan mulai googling universitas serta jurusan yang ingin saya masuki. Sebelum menyiapkan lain-lainnya, saya tahu pintu masuk untuk mendaftar beasiswa-beasiswa itu ada pada nilai TOEFL, atau IELTS untuk Chevening. Saat itu, terakhir saya mengikuti ujian TOEFL adalah ketika hendak diwisuda di tahun 2008. Nilainya masih di bawah TOEFL yang disyaratkan untuk beasiswa. Itupun masih TOEFL institusional. Padahal beasiswa seperti STUNED mensyaratkan TOEFL internasional.

Berbekal semangat, saya beli buku-buku latihan TOEFL. Saya atur jadwal setiap hari untuk mengerjakan soal minimal setengah jam. Saya perbanyak buku berbahasa Inggris yang saya baca untuk memperkaya vocab, serta mencoba menghilangkan English subtitle pada film asing yang saya tonton untuk melatih listening.

Program yang saya buat sendiri hanya berjalan beberapa minggu. Di awal tahun 2012, saya mulai malas membuka-buka buku latihan soal. Hingga akhirnya saya kembali bersemangat ketika teman kantor berencana mengambil TOEFL iBT (internet-based test) di awal Februari. Kami mendaftar bersama dan memutuskan tanggal 5 Februari untuk tes di Plasa Sentral.

Selama ini saya terbiasa dengan TOEFL PBT (paper-based test). Saya sama sekali asing dengan tes berbasis internet yang merupakan metode terbaru TOEFL internasional. Buku TOEFL yang saya beli pun ternyata buku yang masih menggunakan metode tes lama. Akhirnya saya beli dua buku TOEFL iBT. Dari buku-buku itu, saya tahu beda antara PBT dengan iBT. Perbedaan paling kentara adalah adanya tes speaking pada TOEFL iBT.

Panik.

Bahasa Inggris saya masih belepotan. Serius. Vocab yang terbatas dan usaha mengucapkan kalimat dengan grammar sempurna membuat saya butuh waktu lebih untuk berpikir. Untuk melatih speaking, saya merekam suara sendiri di recorder. Saya ceritakan kejadian seharian itu menggunakan Bahasa Inggris. Tapi rasanya ada yang kurang dengan model belajar seperti itu. Saya butuh teman agar percakapan menjadi lebih dinamis.

Teman kantor rupanya punya pemikiran yang sama. Kami pun sepakat untuk berlatih bersama sepulang kantor, minimal setengah jam. Sejak saat itu, ketika jarum jam sudah menunjukkan angka 4, dia akan ke ruangan saya – yang lebih hening dan lebih luas. Kami akan mengobrol tentang apa saja menggunakan Bahasa Inggris. Ketika ada kata yang tidak kami mengerti, kami tinggal membuka kamus online yang tersebar di dunia maya. Terkadang, kami membuka video tentang TOEFL iBT di YouTube. Tujuan yang sama membuat kami tak sungkan berbagi informasi dan materi belajar.

Setengah jam berlalu terlalu cepat. Kami pun biasanya akan meneruskan obrolan sembari makan bersama di luar. Tak peduli orang lalu-lalang, tak peduli betapapun lamanya kami merangkai kalimat, kami tetap berbahasa Inggris – atau mungkin sebenarnya Globish. Ha!

Belum lagi mengikuti TOEFL iBT, saya dapat informasi tentang beasiswa S2 Kementerian Komunikasi dan Informatika. Beasiswa ini mensyaratkan TOEFL ITP (Institutional Testing Program) dan juga TPA (Tes Potensi Akademik). Batas akhir pendaftaran adalah akhir Februari. Setelah mencari informasi tentang kedua tes tersebut, saya segera mendaftarkan diri untuk mengikuti TOEFL ITP di Universitas Indonesia Salemba pada Kamis, 9 Februari, serta TPA di Koperasi Bappenas pada Sabtu, 11 Februari. Lengkap sudah tes di dua minggu pertama Februari.


TOEFL iBT – 5 Februari 2012

Minggu pagi. Saya gugup sejak malam sebelumnya. Tes ini penting untuk saya. Bukan saja karena biayanya yang mahal, tapi tes ini juga menjadi pintu pertama untuk mimpi-mimpi saya. Seorang sahabat memberikan kartu ucapan untuk menyemangati. Andai saja dia tahu jika selembar kartu itu telah melecutkan semangat dan harapan melebihi keyakinan yang saya miliki saat itu. Terima kasih. Terima kasih.


Doa juga meluncur deras dari bapak-ibu. Ratusan kilometer jaraknya, doa yang dikirimkan menjadi serupa tameng untuk menghancurkan pikiran-pikiran buruk. Terima kasih. Terima kasih.

Saya sampai di Plasa Sentral sekitar pukul 8. Sudah banyak orang yang mengantri, termasuk beberapa warga negara Korea dan Republik Rakyat Cina. Kami diberi nomor pendaftaran, diberi formulir untuk diisi, menunggu giliran untuk difoto, dan langsung masuk untuk mulai mengerjakan tes. Dengan begitu, setiap orang punya start yang berbeda-beda untuk memulai tes.

Saya masuk jam 9 kurang. Teman kantor sudah masuk lebih dulu. Saya duduk di deret paling kanan, baris pertama di depan. Di samping kiri saya masih kosong. Beberapa orang sudah berbicara keras-keras – saya ketahui kemudian jika mereka sedang cek suara. Saya kembali gugup. Sama seperti yang lain, sebelum dimulai, ada cek untuk mengetes suara lewat headset. Bahkan dari cek sederhana itu pun, suara saya sudah gemetar.

Selesai cek suara, tes yang sebenarnya dimulai.

Tes pertama adalah Reading. Bacaan pertama membuat saya panas-dingin. Hilang sudah konsentrasi saya. Bahasanya sukar dipahami. Lima menit mencerna isi bacaan seperti berjam-jam, sementara timer yang ada di sudut kanan atas terus menghitung mundur. Saya bolak-balik membaca untuk memastikan jawaban yang benar. Cara itu tidak efektif karena waktu saya berkurang banyak di bacaan pertama. Timer semakin membuat saya gelisah.

Selesai di bacaan pertama, saya mulai mengerjakan bacaan selanjutnya. Ah, lebih mudah! Begitu juga bacaan yang lainnya. Tapi waktu saya sudah terlanjur dihabiskan di bacaan pertama. Saya tak punya waktu lagi untuk terus mencocokkan bacaan dengan jawaban. Ketika timer sudah menunjukkan 00:00, saya sudah pasrah dengan hasil tes Reading.

Masih ada tiga tes lagi, mungkin ketiganya akan lebih baik hasilnya. Saya pikir begitu. Semangat saya masih menyala meski sedikit meredup. Andai saya tahu tes selanjutnya jauh lebih membuat frustasi.

Tes Speaking jadi yang kedua. Orang-orang sudah ramai menjawab tes ini. Seorang pemuda duduk di kursi sebelah saya. Dia baru saja mulai tes yang pertama. Pertanyaan pertama mudah saja sebenarnya, tapi saya terlanjur grogi. Jawaban saya didengar dimana-mana – minimal oleh peserta tes di samping, dan saya pun bisa mendengar jawaban yang lainnya. Bagaimana kalau jawaban saya konyol? Bagaimana kalau nanti tiba-tiba saya diam karena tak tahu harus bicara apa? Duh! Perempuan di belakang saya menjawab dengan Bahasa Inggris yang fasih dan meyakinkan. Tingkat percaya diri saya langsung terjun bebas.

Meskipun begitu, saya tahu saya harus terus berbicara. Waktu yang pendek membuat saya berbicara apa saja yang ada di otak. Tak peduli lagi dengan grammar, saya terus bicara. Di akhir tes Speaking, harapan saya untuk mencapai nilai 79 – nilai yang ditetapkan untuk mendaftar STUNED – hilang sudah. Pikiran saya separuh menyerah di separuh tes TOEFL ini. Saya anggap tes ini sebagai uji coba saja untuk mengukur kemampuan.

Ada jeda 10 menit sebelum tes selanjutnya. Saya sempat bertemu teman kantor di luar ruangan. Dia mengeluhkan hal yang sama. Entah kenapa, saya merasa jadi lebih baik. Setidaknya, tak hanya saya saja yang menganggap tes ini sulit.

Masuk ke ruangan lagi, saya sudah lebih rileks. Tes Listening tak begitu susah. Percakapan yang dibuat senormal mungkin, membuat saya tak kesulitan menjawab pertanyaan. Saat tes berlangsung, orang sebelah saya baru mulai tes Speaking. Suaranya beradu dengan suara tes di headset. Butuh konsentrasi penuh untuk terus fokus pada tes. Begitu pun, saya masih bisa mencuri-curi dengar jawabannya. Semuanya lebih bagus dari jawaban saya. Dia menjawab dengan bahasa yang sederhana namun jelas. Lain kali, akan saya tiru cara dia menjawab.

Tes terakhir adalah Writing. Saya lebih santai di tes ini. Saya bisa menyelesaikan jawaban sesuai dengan jumlah kata yang disyaratkan. Waktu saya masih tersisa beberapa menit untuk tes ini, yang saya anggap sebuah kemewahan; mengingat di tes yang lain saya selalu kehabisan waktu. Jam 12 kurang, saya sudah menyelesaikan semua tes.

Saya keluar ruangan dengan perasaan antara lega dan tak yakin. Apapun hasilnya nanti, setidaknya saya sudah mencoba yang terbaik untuk saat itu.

Ps. Masih ada dua tes lagi menunggu di minggu berikutnya. Saya akan tuliskan keduanya di postingan terpisah agar tidak terlalu panjang.

Monday, 27 February 2012

Semalam Bersama Il Divo

Jangan pernah menonton konser tanpa mengisi penuh baterai kamera sebelumnya – jika memang berniat menyimpan momen konser itu sebagai kenang-kenangan. Itu pelajaran nomor satu saat Sabtu (25/2) kemarin saya menonton konser Il Divo di Ballroom The Ritz Carlton Pacific Place. Belum juga sesi pertama usai, icon baterai di kamera sudah berkedip-kedip tanda minta diganti. Beruntung masih ada kamera HP, meskipun ternyata tak banyak membantu juga karena terbatasnya zooming feature. Tapi setidaknya, saya masih bisa merekam semua momen itu di... hati.

*hening*

Okay, abaikan kalimat terakhir tadi.

Saya tahu konser Il Divo sejak sebulan sebelumnya. Ini kali ketiga mereka mengadakan konser di Indonesia setelah sebelumnya tampil di tahun 2007 dan 2009. Mencari teman untuk menonton konser bukan hal mudah. Teman-teman dekat saya bukan penggila konser. Apalagi ini Il Divo. Harga tiketnya relatif lebih mahal dibanding konser-konser genre musik lain. Iseng saya ajak teman kantor saya – Mbak Tina – untuk menonton konser ini. Tak butuh satu menit berpikir, dia langsung bilang iya. Hari itu, dua tiket Silver sudah dalam genggaman.

Sejak itu, saya terkena demam Il Divo. Saya beli CD dan DVD-nya, mencoba membiasakan diri dengan lagu-lagu mereka. Saya bukan penggemar berat Il Divo, tapi cukup suka untuk tahu nama masing-masing personel, cukup familiar dengan beberapa lagu lama mereka, dan cukup bisa membedakan suara satu dari yang lainnya. Saya bahkan punya Urs Buhler sebagai favorit.

Saya kenal Il Divo dari lagu ‘I Believe in You’, duet mereka dengan Celine Dion. Saya suka lagu itu dan menjadikannya salah satu lagu yang sering diputar jika sedang sedih atau murung. Liriknya yang positif dan menguatkan membuat saya merasa lebih baik setelah mendengarnya. Semakin saya mengenal lagu-lagu Il Divo yang lainnya, semakin suka saya dengan mereka. Lagu-lagu favorit saya bertambah, dan saya semakin menunggu-nunggu hari konser mereka di Jakarta.

Satu bulan penantian ternyata tak selama yang saya bayangkan. Di hari-H, saya bersiap-siap membawa semua yang dibutuhkan untuk konser, termasuk kamera. Awalnya, saya hendak membawa Baby Canon dengan lensa 18-135 barunya. Untuk memastikan, saya telepon panitia pertunjukan. Sayangnya mereka melarang kamera jenis ini di konser Il Divo. Jadilah saya cuma membawa kamera saku. Saat saya cek, baterainya masih penuh. Kalau saja saya tahu icon itu bisa menipu...

Gerimis turun ketika saya sampai depan Mall Ambassador, tempat saya janji bertemu dengan Mbak Tina. Tak membuang waktu, kami segera naik taksi menuju Pacific Place. Ini kali kedua saya ke sana, dan kali pertama untuk Mbak Tina.

Sama seperti saat konser Andrea Bocelli, Pacific Place juga ramai dengan mobil-mobil yang mengantri. Kami segera menuju ballroom di lantai empat. Suasana masih tampak lengang, baru beberapa orang yang datang. Tidak ada booklet yang menjelaskan susunan acara konser malam itu. Selain standing banner bergambar  Il Divo yang ada di pintu masuk, tidak ada pernak-pernik yang menunjukkan akan diselenggarakan konser Il Divo di sana. Bahkan LCD TV besar yang ada malah memunculkan potongan klip acara lain yang akan diselenggarakan oleh BigDaddy – promotor untuk konser Il Divo.

Semakin ramai, penonton dipersilakan masuk ke ballroom. Saya dan Mbak Tina dapat tempat duduk F1 dan F2 di sisi sebelah kiri panggung. Tempatnya bisa dibilang lumayan untuk ukuran kelas Silver. Tempat yang saya duduki malah tak beda jauh dengan kelas Gold Andrea Bocelli yang saya ambil dulu dengan harga berlipat-lipat lebih mahal. Saya coba mengambil gambar dengan kamera dan memutuskan untuk memakai feature BW karena hasil gambar warna tidak memuaskan.

 Sebelum acara dimulai

Pukul 20.15, empat pria dalam balutan jas – yang katanya selalu – Armani muncul diiringi tepuk tangan riuh penonton. Mata saya langsung tertuju pada Urs – melalui layar besar di kiri kanan panggung – yang terlihat tampan dengan rambutnya yang dipotong pendek. Tata panggung selang-seling didominasi warna biru dan merah. Lagu demi lagu dinyanyikan, suara mereka yang nyaris sama dengan kualitas rekaman studio membuat penonton histeris. Bukan hanya penonton wanita, rombongan penonton remaja pria di belakang saya heboh setiap kali ada nada-nada tinggi yang dinyanyikan. Lucunya, ketika Il Divo menyanyikan ‘Nella Fantasia’, yang saya ingat pertama justru ‘Whispers in A Dream’-nya Hayley Westenra. 

 Mas-mas di depan saya menghalangi pandangan :(

Il Divo pandai mengambil hati penonton. Mereka ramah dan hangat, juga lihai menggoda penonton – terutama wanita – lewat kata-kata atau bahasa tubuhnya. Hanya Urs yang terlihat lebih pendiam dibanding yang lain. Di lagu ‘La Vida Sin Amor’, mereka mengajak penonton menari salsa. Seksi! Beberapa penonton nekat ke depan panggung minta tanda-tangan dan memberikan bunga. I wish I could be one of those lucky women!

Urs ganteng!

Panggung yang tidak terlalu luas – pun masih dipenuhi dengan pemain orkestra – membuat ruang gerak Il Divo terbatas. Formasi mereka biasanya berdiri berderet berempat, atau dua di depan dan dua di belakang, atau duduk di kursi seperti saat menyanyikan ‘Hallelujah’.


Lagu-lagu yang dinyanyikan malam itu banyak yang merupakan favorit saya seperti  ‘Unchained Melody’, ‘Everytime I Look at You’, dan ‘Melanconia’. Sayang tidak ada ‘I Believe in You’. Ada dua sesi dengan jeda 20 menit di konser ini. Sesi kedua ditutup dengan ‘Somewhere’, yang entah mengapa lebih ‘dalem’ daripada yang biasa saya dengar di CD. Sampai lagu selesai dan Il Divo keluar dari panggung, penonton masih tetap di tempat meneriakkan ‘We want more!’. Tak lama, Il Divo kembali keluar dan menyanyikan ‘Time to Say Goodbye’. Itu adalah lagu terakhir yang menutup konser malam itu.

Penonton tertib keluar dari tempat pertunjukan. Sebagian memilih berfoto dengan latar belakang panggung bertuliskan Il Divo. Di pintu keluar, sudah terpasang poster besar dengan gambar cover album terbaru mereka: Wicked Game. Saya dan Mbak Tina menunggu sepi untuk foto di sana.


Jam sebelas lewat, kami pulang naik taksi; sendiri-sendiri agar cepat sampai kos masing-masing. Lain kali Il Divo datang kembali ke Indonesia, saya lebih dari berminat untuk menonton mereka lagi. Mungkin di lain kali itu, saya bisa maju ke kelas yang lebih dekat dengan panggung.

Ps. Ini lagu yang paling saya suka: 'Everytime I Look At You'. Bikin meleleh :') Lagu ini dinyanyikan di konser mereka di Barcelona.

( Sumber: Youtube)