Friday, 28 March 2014

Ligretto!



Uh..oh..so people think I cooked all these delish food. I WISH I could! Haha! Last night our gorgeous and super kind friend Karen from The Philippines invited us to have dinner at her beautiful and spacious place in Haarweg. You see, so many foods in the pictures and it was all cooked and prepared by her ((ALONE)). Sounds cool to you? Wait, she also played relaxing music (Canon in D was played twice, I counted) and lighted up some candles. And oh, have I told you that she has flowers in her room? Don’t let me start to mention her books and her posters on the wall.



  Just in case you're wondering, Karen is the one in blue shirt.
This is the living room for student housing in Haarweg.


Actually she mentioned all those foods' name but what I remember is Macaroni Chicken Soup and Kari-kari (don't know if I spell it right). The soup was very tasty and that was my favourite. All the other foods were delish but you know, you can always have something that impressed you the most and for me, that's the soup.

 This. Is. The Best.

I always - ALWAYS - consider myself picky when it comes to food. Most of the times I didn't even want to try something new. But having international environment (and friends) changes my perspectives *insert any enlightenment picture here*

We played Ligretto as well. It's a card game that can ruin your friendship because everyone started shouting and accused anyone else cheating haha! I'm glad no one’s physically hurt ^^' So basically to win the game you have to be the first to finish your cards and say 'Ligretto!' out loud. Shouting 'Ligretto!' brings you the awesome feeling like when your football player scores in a very important match. It simply gives you happiness.


So yeah, I enjoyed last night very mucho. Good friends, good food, good music, good game. Does it sound wonderful? Now excuse me while I'm heading to Feelipines!

Monday, 17 March 2014

“You Believed You Could, So You Did” (3)


Minggu pagi yang cerah. 16 Februari 2014. Saya dan Icha bersiap jalan-jalan untuk hari itu. Icha mengajak saya ke Abbey Road yang terkenal karena foto The Beatles sedang menyeberang zebra cross di sana. Absurd ya? Iya, terutama buat saya yang tidak nge-fans dengan The Beatles. Lagipula hari itu saya sudah berencana pergi ke Stamford Bridge Chelsea FC. Saya sudah pesan tiket online untuk Stadium Tour beberapa minggu sebelumnya. Lumayan dapat harga 17 poundsterling, lebih murah 3 pounds dari harga on the spot.

Jadilah saya dan Icha pergi sendiri-sendiri. Icha pergi ke halte bus, saya berjalan lebih jauh ke Stasiun Colindale – melewati taman. Butuh sekitar 15-20 menit dari Wisma Indonesia ke sana. Kemarin di Heathrow saya sudah beli Oyster, kartu multiguna untuk naik kendaraan umum di London; semacam OV-Chipkaart-nya Belanda.

Berbekal peta offline yang sudah saya simpan di tab Samsung, saya naik Northern Line tujuan Kennington. Saya berhenti di Leicester Square dan berganti ke Piccadilly Line tujuan Heathrow Airport. Saya turun di Earl’s Court, kembali berganti line – kali ini Distric Line – dengan arah Wimbledon. Stasiun akhir tujuan saya adalah Fulham Broadway.

Ribet ya? Iya. Kesasar? Pasti.

Itu kali pertama saya ke London, pertama kali naik tube. Sendirian. Saya sempat salah berganti line, hingga harus balik ke stasiun semula di Ear’s Court. Tapi mungkin karena jalan-jalan sendirian, saya jadi lebih awas. Saya mengingat-ingat semua jalan yang saya lewati, semua tanda dan membaca semua petunjuk. Setelah sempat kesasar, saya sampai pada tujuan di Fulham Broadway.


Begitu keluar dari stasiun, papan penunjuk menuju Stamford Bridge sudah menanti. Saya mengambil kiri sesuai petunjuk. Saya berjalan terus dan taraaa… Stamford Bridge muncul di sisi sebelah kiri.


Sebenarnya saya bukan fans fanatik Chelsea, kedua adik sayalah yang cinta banget sama mereka. Sebagai kakak yang baik, saya masukkan Stamford Bridge jadi salah satu tujuan jalan-jalan. Saya ingin membelikan Ema dan Nanda oleh-oleh langsung dari Stamford Bridge.

Meskipun stadium sudah ada di sisi kiri, untuk menuju pintu masuk saya masih harus berjalan beberapa meter ke depan. Saya lihat jam, tinggal beberapa menit dari jam 10 – jadwal tour saya. Untunglah saya datang tepat waktu. Belasan orang sudah menunggu, dua orang memakai jersey Chelsea.

Kami diberi kartu tanda masuk dan mulai mengikuti tour guide.

Tempat pertama yang kami masuki adalah stadium kebanggan Chelsea. Si guide tour menjelaskan sejarah stadium ini, juga menjelaskan tata tertib tour. Dari sana, kami masuk ke ruang konferensi pers. Kami difoto satu per satu oleh si guide tour.


Setelah itu, kami diajak ke ruang ganti pemain untuk tim lawan. Biasa saja. Ada satu kursi dekat kaca dan guide tour bilang itu adalah spot favorit Christiano Ronaldo. Orang yang suka bola pasti tahu kenapa.

 Ruang ganti tim lawan

 Ruang ganti Chelsea

Ruang ganti pemain Chelsea jelas beda kelas dengan yang untuk tim lawan. Lantainya saja lebih oke. Jersey pemain Chelsea bergantungan di locker masing-masing. Guide tour menjelaskan penempatan locker pemain Chelsea disesuaikan dengan geografis negara atau bahasa yang digunakan pemain, misal David Luiz sengaja bersebelahan dengan Oscar sementara Terry dengan Lampard.


Dari sana, kami dibawa ke tunnel menuju stadium. Itu lho, tempat pemain bola saat akan keluar bertanding. Peserta tour diminta berdiri bersebelahan. Saya masuk jadi tim Chelsea tentu saja haha! Yang lebih keren, ada suara-suara gemuruh stadion seolah-olah kami betulan akan bertanding. I wish my siblings were there with me!

Kami kembali ke stadium seperti agenda yang pertama, tapi kali ini dengan view yang lebih bagus. Ada kotak kaca dengan kursi hitam, itu adalah tempat WAGs-nya pemain Chelsea. Tempat spesial ini letaknya di pojok. Makanya sering lihat kan kalau ada pemain yang melakukan selebrasi gol dengan berlari ke arah pojok? Itu artinya dia merayakannya dengan istri atau pacar mereka, itu kata si guide tour sih.


 Kursi hitam untuk WAGs

Tour satu jam ini berakhir di tempat oleh-oleh. Saya beli oleh-oleh untuk Ema dan Nanda, seperti janji saya.


Karena jalan-jalan sendiri, saya bebas mengatur waktu semau saya. Lapar, saya menyusuri jalan – melewati Stasiun Fulham Broadway – dan terus hingga menuju tempat yang ramai dengan kafe dan aneka jenis resto. Karena bingung memilih makanan, saya akhirnya memilih makan kebab yang sudah pasti halal. Tapi anehnya, rasa kebab di Inggris beda dengan Belanda atau Jerman. Lebih enak di Belanda. Belakangan saya tahu kalau kebab di Inggris menggunakan daging domba, sementara kebab di Belanda atau Jerman menggunakan daging sapi.

Tujuan saya selanjutnya adalah Buckingham Palace. Inilah tempat yang sering saya lihat di TV atau artikel majalah. Turun di Stasiun Victoria, saya mengikuti papan petunjuk menuju Istana Ratu Elizabeth II.

Oya, salah satu yang saya suka banget dari London adalah peta yang ada dimana-mana. Setiap beberapa meter, ada peta atau papan petunjuk – plus perkiraan waktu tempuh ke suatu tempat dengan berjalan kaki. Petanya pun mudah dibaca. Ini sangat memudahkan turis macam saya yang kadang-kadang hilang arah.

Buckingham Palace siang itu ramai dengan turis. Matahari sedang murah hati dengan sinarnya. Orang-orang berfoto dengan istana sebagai latar. Banyak yang lain menengok ke dalam melalui sela-sela pagar. Well, tidak ada petugas jaga istana dengan baju berwarna merah dan topi beruang. Yang ada petugas dengan baju berwarna abu-abu. Saya sempat diminta tolong untuk memotret traveler yang jalan-jalan sendirian. Sebagai gantinya, dia juga memotret saya.






Dari sana, saya berjalan lurus melewati taman. Karena cuaca cerah, banyak yang duduk-duduk di taman sambil makan es krim. Tupai berlarian dikejar-kejar anak kecil. Hari yang indah!

National Gallery jadi tujuan saya berikutnya. Orang-orang lebih ramai lagi di sini. Atraksi dimana-mana, yang paling heboh adalah seorang penampil yang jago bermain pedang, yoyo, sepeda, dan segala macam atraksi lain yang menghibur. Jack of all trades, master of many!


Masuk National Gallery ada dalam daftar saya salah satunya karena gratis. Tidak boleh memotret di dalam, jadi saya hanya melihat-lihat lukisan. Itu pun tidak paham sebetulnya. Karena saya tipe orang yang pusing dengan keramaian, saya menghabiskan sebentar saja di sana. Sore harinya, saya pulang Wisma Indonesia.

Hari kedua terlewati dengan baik. London itu nyaman untuk jalan-jalan. Saya tak kuatir lagi dengan sisa hari-hari ke depan.

“You Believed You Could, So You Did” (2)

Sabtu, 15 Februari 2014. Untuk kali kedua, saya ke Bandara Schipol. Yang pertama adalah lima bulan sebelumnya saat saya pertama kali datang ke Belanda. Pagi itu Schipol sudah mulai sibuk. Mungkin karena bertepatan dengan musim libur.

Saya menyelempangkan tas coklat di tangan kanan, menggeret koper kabin berwarna pink. Saya melangkah menuju konter British Airways, datang tiga jam lebih cepat dari waktu keberangkatan – meskipun sehari sebelumnya saya sudah check in online.

“Your flight is cancelled,” kata petugas ketika melihat boarding pass saya.

Wait, what?

Angin memang sedang kencang-kencangnya hari itu. Untuk berjalan ke halte bis di seberang apartemen saja membutuhkan tenaga ekstra. Inggris yang tengah dilanda banjir juga kabarnya membuat beberapa pesawat dibatalkan.

Si petugas mengecek komputer di depannya, tersenyum ketika bilang masih ada kursi kosong untuk penerbangan sebelumnya.

Penerbangan sebelumnya? Iya, jadwal saya dimajukan dan saya hanya punya 20 menit sebelum gate ditutup. Dia menyorongkan boarding pass baru untuk saya. Tak menunggu lama, saya setengah berlari ke gate yang tertulis di boarding pass. 

Setelah melewati Imigrasi dengan mudah (petugas imigrasinya ganteng dan mengajak saya ngobrol dengan Bahasa Indonesia, serius), saya diperiksa sebelum masuk gate. Jaket, syal, dan sepatu saya tanggalkan. Saya masuk ke sebuah tabung x-ray dimana saya harus mengangkat kedua tangan dengan kaki menapak pada titik yang telah ditentukan. Pun setelah itu, saya masih diperiksa ‘manual’ oleh petugas perempuan. Well, ketat juga penjagaannya.

Tak lama, saya sudah masuk dalam antrian masuk pesawat. British Airways! Saya bisa saja memilih budget airline seperti RyanAir. Tapi ini British Airways! Dan saya ingin Bandara Heathrow – bandara utama Inggris – yang pertama saya datangi, bukannya bandara-bandara lain seperti Luton atau Stansted. Lebih dari itu, saya dapat harga lumayan murah karena pesan jauh-jauh hari sebelumnya.

Saya duduk di kursi tengah, deretan kursi tengah. Sebelah kanan saya bapak-bapak, sebelah kiri ibu-ibu. Aksen Inggris mulai terdengar. Duh, betapa saya ingin mendengar langsung aksen ini di negara asalnya!

Setelah duduk lama, ada pengumuman kalau pesawat di-delay. 1.5 jam delay dan kami mesti menunggu di dalam pesawat. Orang-orang merutuk. Well, ini sih artinya saya balik lagi ke jadwal semula.

Mungkin ada benarnya sih penundaan ini. Seperti yang saya bilang, angin sedang kencang-kencangnya. Bahkan saat pesawat masih menapak tanah pun, goncangan karena angin sudah terasa.

Ketika akhirnya pesawat take off pukul 12.30-an, pilot sudah mewanti-wanti kalau perjalanan akan dipenuhi dengan goncangan. Nervous, saya alihkan perhatian dengan baca-baca majalah.

Selama satu jam dua puluh menit perjalanan, pramugari dua kali menghampiri. Yang pertama saya dikasih snack berupa kacang bungkus ”premium”, yang kedua saya ditawari minuman. Saya memilih jus tomat karena mengharapkan sesuatu yang segar. Salah besar. Rasa jus tomatnya hampir mirip saus sachet-an, hanya saja tidak pedas dan lebih cair. Ini untuk minuman lho. Saya tak menghabiskannya, takut malah jadi menghancurkan mood.

Sampai di Heathrow, saya belum sepenuhnya sampai Inggris sebelum melewati petugas Imigrasi. Saya deg-degan juga, dua perempuan – satu bule dan satu asia – yang satu deret antrian dengan saya tertahan dan disuruh menunggu di kursi panjang. Salah satunya menangis. Giliran saya, petugas menanyakan tempat saya tinggal di London dan apa yang saya kerjakan di Belanda. Dia juga menanyakan pekerjaan saya di Indonesia. Setelah tahu saya pegawai pemerintah, petugas tak bertanya macam-macam lagi. Dia langsung memberi stempel. It’s official. London, I’m coooooming!





Saya minta driver dari Wisma Indonesia menjemput saya pukul 5 sore. Sengaja saya beri jeda supaya saya bisa mengeksplor Heathrow. Well, ternyata bandara utama Inggris ini biasa saja. Saya pikir bakalan semewah Changi. Sambil menunggu, saya ke toko buku, membeli sandwich, dan berakhir di Krispy Kreme minum coklat panas dan donat.

Pukul 5 tepat, driver menjemput saya. Mobil yang dia bawa setipe Suzuki APV tapi lebih besar lagi – terasa kosong karena hanya saya seorang yang dijemput. Driver dari Pakistan ini ramah dan sopan. Dia menjelaskan tempat-tempat yang kami lalui, sambil memberi tips jalan-jalan di London, juga merekomendasikan makanan halal dekat wisma.

Tak sampai satu jam, saya sampai di Wisma Indonesia, di daerah Colindale – utara London. Suasana homey langsung terasa begitu saya masuk. Nyaman. Datang-datang, saya langsung dibuatkan Indomie goreng sama mas yang jaga. Kamar saya ada di lantai dua, berbagi dengan dua perempuan lain, salah satunya bernama Icha. Icha sudah datang sejak dua atau tiga hari sebelumnya. Kelak, Icha inilah yang jadi teman sekamar saya beberapa hari selanjutnya karena teman yang lain hanya menginap semalam di sana.



Kesan saya di hari pertama di London? Well, tak ada yang begitu istimewa. Perasaan saya campur-aduk antara menganggap ini surreal hingga lelah karena delay yang lama dan goncangan pesawat sepanjang jalan, juga rasa jus tomat yang masih saja menempel di lidah (jangan tanya baunya seperti apa).

Dan oh, petualangan yang sesungguhnya baru dimulai esok hari.