Showing posts with label celebration. Show all posts
Showing posts with label celebration. Show all posts

Friday, 11 February 2022

Setelah Tiga Belas Tahun

 

Saya lupa kapan mulai menjawab “udah lama banget pokoknya” setiap kali ditanya berapa lama saya ngekos di Jakarta. Pertanyaan itu biasanya dilontarkan anak kosan baru ketika kenalan basa-basi. Entah kenapa terselip rasa malu ketika menyebut sebuah angka, terlebih ketika angka itu tembus dua digit.

Ketika pertama kali ngekos di Karet Pedurenan setelah hanya sebulan bertahan ngekos di Pejaten, saya tidak pernah membayangkan akan tinggal di sana hingga 13 tahun. Kamar saya ada di pojokan paling belakang, berbatasan langsung dengan gang. Saya sudah terbiasa dengan suara ibu-ibu bergosip pagi-pagi, bocah-bocah bermain dan berlarian, juga bapak-bapak ngobrol hingga larut malam yang asap rokoknya ikut masuk ke kamar. Saya pun tak terlalu peduli bising motor yang lewat gang, juga asap sate dari abang-abang yang kadang mangkal di sore hari.

Karena bisa mendengar semua kejadian di balik tembok, saya jadi tahu beberapa kejadian tanpa melihatnya langsung: cewek-cowok yang berantem sampai ceweknya nangis, ucapan selamat ulang tahun tepat pada tengah malam, juga seorang ibu yang rutin mengomeli anaknya tiap mengerjakan PR. Yang terbaru, saya dengar teriakan tangis dini hari yang disusul dengan derap langkah kaki orang berlarian. Esoknya saya tahu kalau ada tetangga belakang kosan yang meninggal bunuh diri. Konon katanya karena sakit terlalu lama yang tak kunjung sembuh.

Saya bisa menahan semua itu hingga akhirnya pandemi datang dan WFH menjadi hal yang lazim. Kamar kosan saya terasa makin sempit, tinggal di sana bertahun-tahun membuat barang saya menumpuk. Tanpa jendela ke arah luar dan tak adanya sinar matahari yang masuk membuat saya makin ingin pindah. Terlebih tetangga belakang kosan tetiba punya ide untuk membuat bengkel motor di depan rumahnya. Mungkin ia juga merasa lebih fokus bekerja di saat orang lain tidur sehingga suara ketak-ketok dari bengkelnya terdengar hingga Subuh.

Tak tahan lagi, beberapa bulan setelahnya saya pindah ke kamar depan yang kebetulan baru ditinggal penghuninya. Kamar ini lebih luas dengan jendela lebar yang ramah pada cahaya matahari langsung. Dibanding sebelumnya, kamar ini lebih tenang meski hampir tiap hari ada abang tukang paket yang mengantar barang.

Apa yang membuat saya bisa bertahan di kosan selama 13 tahun? Selain murah untuk ukuran kosan di Kuningan, Jakarta, kosan ini juga dekat dengan kantor. Saya juga bisa ke Mal Ambasador, Kuningan City, dan Lotte Avenue dengan berjalan kaki. Jalan sedikit ke arah yang berbeda, saya sudah bisa ke Plaza Festival dan Setiabudi One. Tempat makan banyak, tidak pernah banjir, dan otomatis saya tak perlu bermacet-macet ke kantor atau pulang dari kantor.

Selain itu, teteh yang jaga kosan juga baik. Dia sering memberi saya makanan –seringnya bakso dan soto buatannya– juga cemilan seperti kacang goreng, rempeyek, dan terkadang cireng. Di bulan Ramadan, biasanya saya minta dimasakin oleh teteh. Saya berikan ia uang dan minta yang penting nasinya hangat, ada lauk, dan sayurnya. Tapi dua tahun ke belakang teteh sudah tak menerima pesanan sahur, sehingga saya berlangganan katering Ramadan.

 

Memulai kembali

Meskipun jawaban-jawaban di atas terasa masuk akal, sebenarnya saya punya satu alasan lainnya: saya sendirian. Sebenarnya beberapa tahun belakangan ini saya tergoda untuk tinggal di apartemen. Tapi saya masih ragu-ragu, belum berani tinggal sendiri. Bagaimana kalau sakit? Setidaknya kalau di kosan ada orang yang bisa langsung dimintai tolong. Selain itu, biaya sewa apartemen juga rasanya akan lebih ringan jika ditanggung berdua.

Masalahnya, keinginan saya untuk berbagi apartemen dengan orang lain berbanding terbalik dengan kemudahan saya mencari housemate. Mungkin ada teman yang enak buat jalan bareng dan ngobrol, tapi untuk tinggal satu atap berdua pasti membutuhkan usaha lebih. Harus yang sama-sama bisa bikin nyaman, dan setidaknya punya nilai yang mirip-mirip.

Setiap kali memandangi apartemen di daerah Kuningan, saya membayangkan rasanya pasti nyaman tinggal di sana. Bisa santai-santai di balkon pagi hari, juga malam hari sambil melihat pemandangan kota. Di sana juga bisa masak sendiri, pulang dari kantor juga bisa langsung mandi dengan air hangat. Tapi ya…saya cukup tahu diri kalau biaya apartemen di Kuningan sudah tak masuk kantong saya. Lagipula, siapa juga yang mau berbagi apartemen dengan saya?

Hingga akhirnya, ada Kirana.

Pertemuan pertama kali dengannya saya ceritakan di sini. Saya mengenalnya ketika ia masih kuliah di Semarang, hingga diwisuda, dan bekerja di anak perusahaan BUMN jalan tol di Pekalongan. Kirana bercita-cita mengambil jurusan Psikologi, tetapi keadaan memaksanya memilih Akuntansi dan bekerja terkait uang dan transaksi di kantornya. Itu adalah sesuatu yang tak ia suka. Ingin mengubah nasib, ia mengikuti tes CPNS untuk jabatan yang bersinggungan dengan HRD.

Saya tak ingat bagaimana awalnya, tapi obrolan tentang berbagi apartemen mulai muncul dalam percakapan kami. Ketika pertama kali mendengar ide tersebut, saya merasa tinggal dengannya akan menyenangkan. Kirana adalah orang yang thoughtful dan mudah untuk diajak berkomunikasi. Kami pernah berbagi hobi idoling yang sama (oshi kami sama, btw), dan sekarang kami sama-sama suka Taylor Swift. Nilai-nilai yang kami anut juga tak beda jauh, jadi seharusnya akan baik-baik saja dengannya.

Kemungkinan berbagi apartemen dengan Kirana menjadi makin terang ketika ia lolos dengan nilai tertinggi pada seleksi SKD di sebuah kementerian. Pada tahapan SKB yang menjadi penentu, ia berhasil masuk menjadi salah satu dari dua orang yang lolos untuk posisi yang berhubungan dengan kepegawaian.

Congratulations!

Keberhasilan Kirana juga artinya kemenangan buat saya. Rencana-rencana yang awalnya cuma angan-angan, kini makin jelas dan diberi tanggal. Kami mulai mencari-cari apartemen melalui berbagai aplikasi dan secara daring, lalu mengerucutkannya dengan budget dan kriteria dua kamar yang kami inginkan.

Karena kantor saya di Rasuna Said sementara dia di Medan Merdeka Barat, kami membuat daftar apartemen yang jarak tempuhnya masih wajar untuk kami berdua. Kami urutkan berdasarkan budget, fasilitas, dan jarak. Karena budget yang ketat, banyak apartemen yang berguguran pada seleksi permulaan.

Setelah mencari-cari info, memilah, dan memilih, kami punya dua alternatif apartemen, yaitu Taman Rasuna di Kuningan dan Signature Park Grande di Cawang. Biaya sewa untuk keduanya beda tipis (kebetulan yang Taman Rasuna saya nego langsung dengan pemiliknya sehingga lebih murah), dan masing-masing punya kekurangan dan kelebihannya. Apartemen Taman Rasuna jelas memiliki lokasi yang strategis, tapi unit yang ditawarkan sudah tua. Sementara, Signature Park Grande terlihat baru dan nyaman, tapi jarak ke kantor kami lumayan juga, terutama untuk Kirana. Ada beberapa unit di sana yang sudah kami incar.

Rupanya kebingungan kami sebentar saja, karena begitu kami ke Signature Park Grande, kami langsung tahu kalau itu yang kami inginkan. Apartemen ini termasuk baru dan relatif tenang. Kartu akses digunakan untuk menuju lift dan ketika memilih lantai di lift sehingga saya merasa aman. Lorongnya lebar dan unitnya tak sekecil apartemen di daerah Jakarta Selatan yang pernah saya datangi.

Dari lima unit yang kami kunjungi, ada satu yang dipilih. Unit ini terletak di lantai 6 dan menghadap jalan. Dari awal, saya dan Kirana memang tidak ingin di lantai yang tinggi untuk alasan keselamatan. Apalagi akhir-akhir ini Jakarta kena gempa. Saya lebih suka view yang menghadap jalan daripada kolam renang, karena jangkauan pandangannya lebih luas. Unit ini juga dilengkapi dengan dua AC dan water heater. Penataannya yang rapi membuat saya langsung kerasan di sana.

Saat ini, saya sedang mulai menata-nata barang di kosan untuk dipindah. Sebagian barang saya donasikan, sebagian yang lain saya berikan ke teteh kosan, ada juga yang saya jual. Kalau semua sesuai rencana, minggu depan saya sudah pindah ke apartemen.

Setelah 13 tahun, akhirnya saya bisa memulai kembali.  

Dan oh, mungkin Ramadan ini saya tak sahur sendiri.

Sunday, 19 February 2017

[Sekilas 2016] 30 Finally!

Tahun 2016 ini saya menginjak usia 30.

Tiga. Puluh. Tahun.

Angka ini dulu terasa jauh, terasa asing. Saya pikir orang berusia 30 pastilah dewasa, berpikiran matang, dan tenang menghadapi hari-hari. Rupanya, tak selalu begitu. Saya merasa tak banyak berubah. Dua puluhan atau 30, sama saja. Well, tentu saya belajar lebih banyak. Tapi bukan berarti saya jadi mampu mengatasi semua masalah. Ada kalanya saya masih panik, gelisah, overthinking.

Beberapa bulan sebelum Juli, saya seolah denial menghadapi angka 30. Saya tak mempermasalahkan usia saya, tapi akibat sosial dari usia itu yang saya pikirkan. Thirty and single. I was completely fine with my life, but people might think I was not. I startled when I realised I didn’t know my plan for the future. Let me repeat. I was completely fine my life, for now. But for the future, I had no idea. I started to think to have a house in Jakarta (I began to think my decision to buy a house in a suburban area was wrong), I even thought about what would I do with my life after I retired from work. It was all blurry and drove me crazy.

Namun beberapa hari menjelang tanggal 26, saya pikir saya telah menerima situasinya. I accepted that I was going to be 30. Sounds silly, eh?

Well, hari ulang tahun saya tahun 2016 ini sebenarnya tidaklah seburuk itu. Dari besties, saya dapat pajangan clay yang bertuliskan Welcome to Club 30! Di situ digambarkan saya adalah seorang wota dengan lighstick hijau di tangan dan seifuku bertuliskan Matsui 27. AKB48 dan segala hal yang bernuansa jejepangan dimasukkan dalam satu frame, menjadikannya personal dan saya banget.

 ^^

Teman fandom saya, Meta dan Kirana juga memberikan kado dengan caranya masing-masing. Meta membuatkan saya gif dengan gambar saya versi anime yang dibuat oleh Denise. It was so cute! Saking senangnya, saya pamerkan ke teman-teman. Gambar itu juga saya jadikan DP di Whatsapp, Facebook, Twitter, hingga jadi wallpaper di HP hehe…

 This is cuter than I am in real life

Kirana memberi saya kado berisi majalah traveling tentang Tokyo, pink bear robot yang saya susun sendiri, dan sepucuk surat. Majalah seputar wisata kuliner di Tokyo ini jadi pegangan saya untuk menentukan mau kemana saat ke Tokyo dua bulan dari saat itu. Pink bear robot-nya saya susun satu-satu dengan melihat petunjuk yang detail, dan setelah jadi, saya beri nama Natsuki. Menyusun bagian-bagian mainan ini butuh ketelatenan, apalagi karena banyak komponen kecil-kecil yang menyulitkan pemasangannya. Rasanya puas setelah berhasil merakitnya! Dan oh, surat dari Kirana juga manis dan bikin saya senyum-senyum sendiri.

Harus telaten masang satu-satu


 Surat dari Kirana

Ema juga mengirimkan paket berisi baju dan kartu yang dia buat sendiri. Adik saya itu memang tambah kreatif!

Awalnya saya pikir ulang tahun saya akan berlalu dengan membosankan, tapi setelah melewatinya, saya bersyukur untuk orang-orang baik di sekeliling saya. In fact, my 30th birthday was one of the best!

Friday, 28 March 2014

Ligretto!



Uh..oh..so people think I cooked all these delish food. I WISH I could! Haha! Last night our gorgeous and super kind friend Karen from The Philippines invited us to have dinner at her beautiful and spacious place in Haarweg. You see, so many foods in the pictures and it was all cooked and prepared by her ((ALONE)). Sounds cool to you? Wait, she also played relaxing music (Canon in D was played twice, I counted) and lighted up some candles. And oh, have I told you that she has flowers in her room? Don’t let me start to mention her books and her posters on the wall.



  Just in case you're wondering, Karen is the one in blue shirt.
This is the living room for student housing in Haarweg.


Actually she mentioned all those foods' name but what I remember is Macaroni Chicken Soup and Kari-kari (don't know if I spell it right). The soup was very tasty and that was my favourite. All the other foods were delish but you know, you can always have something that impressed you the most and for me, that's the soup.

 This. Is. The Best.

I always - ALWAYS - consider myself picky when it comes to food. Most of the times I didn't even want to try something new. But having international environment (and friends) changes my perspectives *insert any enlightenment picture here*

We played Ligretto as well. It's a card game that can ruin your friendship because everyone started shouting and accused anyone else cheating haha! I'm glad no one’s physically hurt ^^' So basically to win the game you have to be the first to finish your cards and say 'Ligretto!' out loud. Shouting 'Ligretto!' brings you the awesome feeling like when your football player scores in a very important match. It simply gives you happiness.


So yeah, I enjoyed last night very mucho. Good friends, good food, good music, good game. Does it sound wonderful? Now excuse me while I'm heading to Feelipines!

Friday, 10 August 2012

Saengil Chukha Hamnida!

Menjelang tengah malam. Kos sunyi senyap. Saya masih sibuk berkutat dengan laptop, menulis untuk update posting terbaru di blog. Kopi di cangkir masih tersisa setengah, saya sengaja menunda waktu untuk menghabiskannya. Toh malam masih panjang.

Terdengar suara ketukan. Saya telengkan kepala, mencari-cari asal suara. Ah, rupanya anak kos belakang! Kos saya berada di daerah padat penduduk. Terletak dekat Segitiga Emas Jakarta, daerah ini punya banyak tempat kos untuk mengakomodasi pegawai atau karyawan yang ingin tinggal dekat tempat kerja. Kiri, kanan, depan, belakang kos saya, semuanya kos atau kontrakan.

Ketukan kembali terdengar. Kali ini lebih keras, lebih demanding. Saya lihat jam dinding. Jam 12 lewat beberapa menit.

Sepertinya tidak ada tanda-tanda pintu akan dibuka. Wajar, sudah malam begini! Si pengetuk tak menyerah, kembali ia mengetuk – kali ini sembari menyebut nama seseorang; mungkin nama orang yang ia harapkan membuka pintu.

Usahanya berhasil, suara kunci terdengar. Pintu berkereket pelan, tanda ada orang yang membukanya. Di detik setelahnya, saya terpukau dengan kejadian tengah malam paling manis, kejadian yang tak bosan saya ceritakan berulang-ulang jika ada yang mau mendengarkan.

“Saengil chukha hamnida! Blabla…”

Saya tak hapal kelanjutannya, tapi itu sebuah lagu! Saya pertegas lagi: sebuah lagu ulang tahun versi Korea yang dinyanyikan jam 12 malam! Live!

Diiringi tepukan, lagu itu dinyanyikan oleh beberapa remaja perempuan; suara mereka menunjukkan itu. Di luar dugaan saya, ternyata ada beberapa alih-alih satu orang yang tadi berdiri di depan pintu; berharap pintu terbuka. Kaget campur senang terdengar dari antusias suara si birthday girl.

Awwww… makasih! Makasih!”

Rupanya ada kue ulang tahun yang dibawa. “Awww..” dan “oooh..” kembali terdengar. Kini si birthday girl meniup lilin setelah diberi komando oleh teman-temannya. Tepuk tangan sekali lagi merobek sepinya malam.

Tembok kamar membatasi pandangan saya pada pertunjukan manis tersebut. Hanya ada ventilasi di bagian tembok paling atas, tak mungkin saya mengintip lewat situ. Satu-satunya jendela justru menghadap kamar teman kos seberang saya. Jadilah saya hanya mendengar dan berusaha mereka-reka detail kejadian menjelang dini hari tersebut.

Setelah tiup lilin usai, mereka mulai mengobrol – berbisik-bisik, lebih tepatnya. Sesekali tawa mereka tak tertahankan, dan “sssstt…” terdengar sebelum mereka membangunkan tetangga kiri-kanan. Suara mereka semakin lama semakin hilang, saya pikir pastilah si tuan rumah telah menyilakan mereka masuk.

Kejadian itu terus membekas di benak saya. Ucapan ulang tahun tepat di jam 12 malam saja sudah langka, apalagi sampai rela berkunjung ke rumah sahabat tengah malam dan menyanyikan lagu untuknya bersama-sama. Membawa kue pula!

Kejadian itu mungkin biasa di beberapa tahun lalu, tapi ini luar biasa untuk jaman ketika ucapan ulang tahun bisa disampaikan hanya dengan menulis HaBeDe di wall Facebook. Kejadian ini mungkin sederhana, tapi tidak untuk jaman ketika Facebook mengambil alih ingatan kita tentang hari istimewa seseorang.

Itulah sebabnya, menjelang ulang tahun saya di akhir Juli kemarin, saya sengaja deactivate akun Facebook. Well, tak banyak yang mengirimkan ucapan di sms atau telepon dibanding tahun-tahun lalu. Tapi saya tahu, mereka yang mengucapkan benar-benar mengingatnya. Bahkan kalaupun mereka dibantu oleh reminder HP, itu artinya mereka sengaja menyisihkan waktu menulis tanggal lahir saya di HP mereka; sesuatu yang lebih bermakna dibanding diingatkan oleh sebuah jejaring sosial.

26 Juli 2012. Hari ulang tahun saya berlalu biasa saja. Sehari sebelumnya, teman baik yang mendapat beasiswa ke Australia menyempatkan diri mengirimkan kado beserta kartu ucapan. Ketika sahur, keluarga satu per satu mulai menelepon. Telepon dan sms dari sahabat baik mulai masuk dari pagi hingga siang hari.

Sehari setelah 26 Juli. Saya pulang ke kos setelah makan malam dengan seorang teman. Aroma ulang tahun sudah menguap tak bersisa di hari itu, sebelum seorang teman kos memberikan bingkisan berwarna silver dengan pita merah muda di atasnya. Kado untuk saya!

“Tadi ada mencari-cari. Perempuan, berambut panjang.”

Saya mengingat-ingat teman-teman perempuan saya. Banyak. Teman berambut panjang? Ada beberapa, sebagian besar teman saya berjilbab. Tapi yang mau datang ke kos hanya untuk memberikan kado? Saya tak bisa menebaknya.

Saya buka kado itu cepat-cepat. Ah, buku Hunger Games! Satu paket lengkap! Ada kartu ucapan di dalamnya. Melihat nama pengirimnya, saya tak tahu harus bereaksi apa.

Saya pernah berteman baik dengannya saat kuliah. Bertiga, dengan seorang teman yang lain. Kami sering saling menginap di kos satu sama lain, memasak dan menonton film sampai larut malam. Di setiap tugas kampus, kami bertiga selalu di satu kelompok yang sama. Ketika salah satu dari kami berulang tahun, dua yang lain akan memberikan kado atau bersusah payah memberikan kue dengan lilin menyala di atasnya.

Menjelang semester akhir, saya dan si teman ini bertengkar. Bukan pertengkaran biasa, karena setelah itu pertemanan kami tak pernah sama lagi. Kami saling menghindar, tak seakrab di hari-hari kemarin.

Kami sama-sama bekerja di Jakarta, namun tak pernah bertemu sampai di akhir 2011 lalu. Setelah tiga tahun, hanya sekali itu kami bertemu. Agak canggung obrolan kami malam itu. Aneh karena sebelumnya kami pernah berteman akrab.

Ia menceritakan rencananya menikah, memperkenalkan pacarnya melalui foto-foto mereka berdua. Tampan! Well, sebanding dengan si teman yang cantik. Mau tak mau saya mengingat mantan pacarnya – yang saya pikir akan jadi pendampingnya kelak –, mengingat kisah-kisah mereka. Ah, saya lupa kalau kami dulu pernah berbagi cerita tanpa canggung seperti ini.

Ia sempat main ke kos sebelum pulang, dan saya tak menyangka ia kembali datang untuk memberikan kado. Mengingat hari ulang tahun saya saja sudah akan saya hargai sungguh-sungguh.

Saya menelponnya untuk mengucapkan terima kasih. Ia minta maaf karena terlambat memberikan kado, ia sedang sakit di hari sebelumnya. Saya lagi-lagi tak tahu harus berkata apa, selain kembali mengucapkan terima kasih. Canggung.

Sampai dua-tiga hari berikutnya, ucapan-ucapan masih datang dari teman-teman lain. Sayangnya, ada satu nama yang terlewat hingga di hari saya menulis ini. Padahal saya sempat bertaruh bahwa satu nama ini adalah teman pertama yang akan memberikan ucapan selamat. Tapi hey, manusia pada dasarnya memang mudah lupa kan?

Mungkin teman saya tidak banyak. Tapi saya tahu, mereka ada. Saya sangat bersyukur untuk itu.

Dan oh, saya tidak bisa tidak teringat pada kutipan dari buku Neil Pasricha di bawah ini ketika pertama membuka kartu ucapan dari si teman. Ia seolah berkata:

“I’d like to get together again. I remember our
laughs and know how busy we’ve been. But I hope you agree
that, since life’s short and always wavering, it’s even more
important our friendship is worth enjoying . . . and worth savoring.”

Selamat ulang tahun!


Monday, 31 October 2011

‘When was the last time you did something for the first time?’

For you who read The Naked Traveler by Trinity, you must know that very challenging question as the title of this note. Trinity asked that question to motivate herself travelling around the world. For me, that first time is not merely about going to new places.

Last Thursday, out of nowhere, I woke up with that question stapled in my head. I wanted to do something first that day. The whole day I kept thinking and when I found the answer, I couldn’t wait until time to go home from work.

It was 4 pm when I practically flew from my cubicle in office. I grabbed my bag, combed my hair, and dressed up briefly before I went to Setiabudi One. That place would witness one of my first-time projects:

Watching. Movie. Alone. By. Myself.

I give the pause effect to bring more dramatic impression.

Yes, I want to watch movie by myself. I never do that before. Of course I’ve ever watched movies alone in my room, but this is different. I want to watch it alone in theater. So, it’s kinda big deal for me.

I’ve ever had karaoke alone, I’ve passed surgery by myself, I’ve gone to many places out of Java with nobody but me, but really, watching movie alone in theater is new for me. It needs courage since I’m so used to watch it with friends. It’s the awkwardness that I should fight.

I came to 21 Setiabudi One twenty minutes early before the movie started. I’ve decided to watch 'The Three Musketeers'. I checked the website before so I knew what movie to choose. I groggily went closer to the ticket booth, and a lady with a friendly smile asked how many ticket I’d buy.

'

“One ticket, please,” I felt a glump in my throat when I said that. The ticket booth lady gave me the pity look – or so I thought – before giving me a ticket.

I felt like a person with no friends. In fact, my best friend was out of town that day.
I felt like a person with no lover. In fact, I just haven’t found him yet.
Well... enough for the mellow drama.
Moreover, it’s me who insisted to feel the glorious experience of watching movie alone for the first time, remember?

Since the movie hasn’t started yet, I sat in a sofa and pretended busy with my phone. My peripheral vision found many couples here and there. I kept looking at my phone as if it looked me back. I was kinda wish my phone had Siri on it.

After centuries, finally Studio 1 has opened. I walked slowly, head up, chin up, nodded to the ticket ripper. As I entered my first step to studio, hundreds flash greeted me and paparazzi adored my braveness to watch movie alone. A little girl from nowhere came out, asked my autograph. I smiled and waved as if I won one of Oscar Award.

Yeah, you know, that only happened on my mind.

The truth is, I entered Studio 1 in a flash, looked for my seat, sat, and hoped the light turn off soon so that nobody noticed that I was alone. In fact, nobody noticed.

The movie started and in the first ten minutes, I missed my friends so badly. I missed having whispering-convos during movie. I missed sharing laughing and giggling. I missed sharing popcorn...

The next ten minutes and so on, I felt more relax. I focused myself for being present like Jamie Cat Callan taught me in her book ‘Bonjour, Happiness.’ I enjoyed myself watching giant screen before my eyes. I lost in the story. I was amazed with air-ship war and I loved the wonderful costumes Orlando Bloom and Milla Jovovich wore. The cool thing in that movie was Athos’ voice that I considered sexy.

I smiled with myself when I found sweet scenes. At that moment I realized, I have been best friend for myself for entire movie. I didn’t let awkwardness win.

‘When was the last time you did something for the first time?’

Now I’m sure what answer I may give. After watching movie on Thursday, I let myself find another first-time project to do. That question challenge me everyday to think about doing something new, something the first. It makes me appreciate every new day comes in my life.

Oh, and who knows in one of those days I will meet my significant others for the first time?

Thursday, 4 August 2011

Selamat Seperempat Abad! >> 26 Juli 2011

Pagi itu saya datang ke kantor tanpa ekspektasi apapun. Setengah malas, saya seret langkah menuju kubikel saya. Belum juga sampai, teman kerja saya bilang ada paket untuk saya yang datang sehari sebelumnya, saat saya tengah ada acara di Jogja. Dia bilang paket itu dari Filipina.

FILIPINA!

Kado ulang tahun saya yang pertama tahun ini sudah sampai! Saya menyegerakan langkah ke kubikel. Saya tidak bisa untuk tidak tersenyum melihat paket putih bertuliskan FedEx di meja kerja saya. Hati-hati saya membukanya, meskipun antusias membuat tangan saya tidak bisa tenang. Saat paket itu terbuka, senyum saya semakin lebar. Kalau saja bahagia bisa membuat orang bersinar, teman-teman satu ruangan saya pastilah butuh kacamata hitam saat menatap saya pagi itu. Ookay...

 
 Happy advance birthday! 

Paket untuk saya berisi buku, kartu ucapan, pembatas buku, dan beberapa postcard. Tebak apa yang pertama saya ambil? Seratus untuk yang bilang saya memilih kartu ucapan. You know me so well then. Iya, kartu ucapan jadi yang pertama saya ambil. Saya membacanya dengan pelan, mencermati setiap katanya, dan menebak-nebak karakter si pengirim dari tulisan tangannya. Setelah itu, saya buka halaman pertama buku berjudul ‘A Pocket Book of Short Stories’. Ada kutipan dari Sir Gustave F. yang ditulis tangan: ‘Do not read, as kids do. To amuse yourself, or like the ambitious, for the purpose of instruction. No. Read in order to live.’ Saya akan ingat itu, terutama kalimat yang terakhir.

 
I <3 Postcards!

'Even the most beautiful days eventually have their sunsets'

 
I don't really like pink, until I see this card :)

Setelah kartu ucapan dan buku, saya beralih ke postcard-postcard yang menggambarkan Filipina. Beberapa postcard diberi tulisan tangan di belakangnya. Postcard seperti itu langsung jadi favorit saya. Saya perhatikan juga kata-kata pada pembatas buku: ‘The world would be a comfier, cozier place... if there were more friends like you.’ dan ‘How fast the hours fly that are filled with friendship and laughter.”


That’s just...

AWESOME!