Monday, 5 January 2015

2013 vs 2014 (II)


8.     I stand on the right side
Tahun 2014 adalah tahun politik untuk Indonesia. Di tahun itu, ada pemilihan legislatif dan pemilihan presiden yang akan menentukan mau dibawa kemana hubungan kita Indonesia di lima tahun ke depan. Meskipun berada ribuan mil dari Jakarta, saya terus memantau perkembangan politik di negeri ini.

Saya bersyukur KBRI di Belanda sangat mempermudah warga Indonesia yang ingin menggunakan hak pilihnya. Tak perlu datang langsung ke TPS di Den Haag, saya bisa memilih lewat surat yang dikirim pos. April 2014, saya memilih calon anggota DPR untuk daerah pemilihan Jakarta II. Saya melakukan riset sebelum menentukan pilihan. Saya ingin bisa mempertanggungjawabkan pilihan saya.

Juni 2014, giliran saya memilih untuk orang nomor satu di Indonesia. Saya kembali memilih menggunakan pos, yang hemat waktu dan biaya. Awalnya saya tak terang-terangan mendukung capres pilihan saya, tapi demi melihat banyak kesimpangsiuran berita ditambah maraknya fitnah, saya mulai sadar untuk menentukan posisi. Saya tidak ingin diam.

Gerakan mendukung salah satu capres mulai gencar di Twitter. Saya juga mendukung capres tersebut. Seorang relawan mengusulkan untuk mengganti profile picture di Twitter dengan foto diri kita dan angka 2 bertuliskan “I stand on the right side” di bawahnya. Awalnya tak tergoda, saya pun mulai memasang foto berlatar merah tersebut di Twitter. Menjelang puncak pemilihan, foto yang sama saya pasang di Facebook yang jangkauannya lebih luas. Capres pilihan saya menang. Namun carut-marut pilpres masih bergejolak hingga akhirnya pada Oktober 2014, capres pilihan saya resmi menjadi Presiden Republik Indonesia.

9.     We love you, Chelsea. We do!
Juli 2013, Chelsea datang ke Jakarta. Antusiasme langsung saya rasakan, meskipun saya sebenarnya bukan the real True Blue. Kedua adik saya yang pantas mendapat sebutan itu. Saya tulis di sini tentang kedatangan Chelsea ke Indonesia.

10.     Mencari rumah
Di tahun 2013, keinginan untuk mempunyai rumah tak terpikirkan oleh saya. Hal itu berbanding terbalik di tahun 2014 ketika saya kembali ke Indonesia. Memiliki rumah sendiri menjadi salah satu prioritas untuk saya. Cerita selengkapnya bisa dibaca di sini.

11.     Jalan-jalan bareng bapak-ibu
Awal Januari 2013, saya mengajak bapak-ibu untuk jalan-jalan ke Penang, Malaysia. Saya ceritakan di sini. Desember 2014, saya kembali mengajak bapak-ibu jalan-jalan, kali ini ke Singapura. Kalau jalan-jalan ke Penang sudah saya niatkan dari lama, jalan-jalan ke Singapura adalah rencana mendadak yang terpikirkan ketika saya masih di Belanda. Setelah menjelajah sepuluh negara di Eropa, saya ingin menambahkan satu lagi: Yunani. Saya hampir booking tiket pesawat ke Athena ketika sesuatu terlintas di benak saya. Rasanya ada yang salah kalau saya sudah kemana-mana, sementara bapak-ibu belum pernah menginjakkan kaki di Singapura.

Well, Penang memang menyenangkan, tapi suasananya tidak luar negeri banget, beda dengan Singapura. Saya ingin bapak-ibu punya pengalaman merasakan ‘luar negeri’ yang sebenarnya di Singapura. Hari itu juga, alih-alih membeli tiket ke Yunani, saya beli tiga tiket Jakarta-Singapura untuk bapak-ibu dan saya. Keputusan yang tepat; bapak-ibu sangat menikmati jalan-jalan ke Singapura. Mereka terkagum-kagum dengan negeri Singa tersebut. Satu misi kembali terselesaikan. Semoga saya bisa mengajak bapak-ibu ke tempat-tempat menarik lainnya.

12.     Musibah Malaysia Airlines dan AirAsia
Tahun 2014 menjadi tahun yang muram bagi maskapai yang berpusat di Malaysia: Malaysian Airlines dan AirAsia. 8 Maret 2014, MH370 milik Malaysia Airlines hilang saat terbang dari Kuala Lumpur ke Beijing. Sampai saya menulis ini, keberadaan MH370 masih menjadi misteri. Kesimpulan terakhir menyebutkan, pesawat jatuh ke laut.

Tak berselang lama, 17 Juli 2014, MH17 dari Amsterdam ke Kuala Lumpur ditembak di daerah konflik Ukraina. Itu hanya berselang dua hari dari saat kepulangan saya ke Indonesia untuk mengerjakan thesis. Meskipun saya naik Emirates, rute yang dilalui bisa jadi sama. Beberapa teman dan keluarga menelpon untuk menanyakan apakah saya baik-baik saja. Itu terulang di akhir 2014.

Tanggal 28 Desember 2014, pesawat AirAsia QZ8501 dari Surabaya ke Singapura hilang kontak. Itu terjadi satu hari setelah saya sampai di Jakarta dari jalan-jalan ke Singapura bersama bapak-ibu naik AirAsia. Memang rute yang dilalui berbeda, namun tetap saja beberapa orang khawatir dan menanyakan kabar. Tiga hari dari saat hilang kontak, AirAsia QZ8501 ditemukan di Selat Karimata, Kalimantan Tengah. Cuaca buruk (awan Cumulonimbus) ditengarai menjadi penyebab jatuhnya QZ8501. Saya berduka untuk para keluarga korban, juga untuk maskapai favorit saya AirAsia.

13.     Perpisahan-perpisahan
Awal hingga pertengahan tahun 2014 adalah masa-masa yang sulit untuk saya, terlepas dari teraihnya mimpi-mimpi di waktu yang bersamaan. Februari 2014, saya dengar kabar kalau Budhe saya di Serpong meninggal. Beberapa minggu sebelumnya saya tahu kalau Budhe dirawat di rumah sakit, tapi saya pikir Budhe bisa bertahan. Budhe masih muda, lebih muda dari umur ibu saya malahan. Saya memikirkan dua anaknya yang masih butuh sosok ibu. Saya sedih membayangkannya.

Mei 2014, kabar duka kembali datang. Nenek saya meninggal. Saya pernah cerita tentang beliau di sini. Mbah Amin memang sudah sepuh. Lahir tahun 1918, Mbah meninggal di usia 95 tahun – sebulan sebelum ulang tahunnya yang ke-96. Mbah sudah sakit-sakitan, saya merasa sangat egois mengharapkannya tetap ada sementara Mbah mungkin sudah ikhlas. Tapi tetap saja, ketika kabar itu datang, saya merasa sedih sampai pada titik saya tidak merasakan apa-apa. Numb.

Saya hanya mengabarkan berita duka ini ke teman-teman terdekat di Indonesia yang kenal atau tahu tentang Mbah. Saya tak menceritakan ini ke teman-teman kampus karena takut reaksi mereka membuat saya lemah. Teman-teman kampus akan memberikan kata-kata penghibur, juga pelukan – kontak fisik yang tak saya dapatkan dari keluarga dan teman di Indonesia. Mereka mungkin akan mengecek apakah saya baik-baik saja. Tapi mereka tak selalu ada. Kembali ke kamar, sendirian, akan terlalu menyakitkan. Alih-alih, saya menjalani hari seperti tidak ada apa-apa. Saya tak membiarkan memori tentang Mbah muncul.

Pada akhirnya, saya tak bisa menahannya sedemikian lama. Skype saya dengan keluarga di rumah untuk pertama kalinya sejak Mbah sudah tidak ada, diselingi off dan on beberapa kali karena saya tak tahan untuk tidak menangis. It was painful. Saat saya pulang ke Indonesia bulan Juli untuk mengerjakan thesis, untuk kali pertama saya ke makam Mbah. Saya panjatkan doa-doa. Dan demi melihat anak ayam berjalan tertatih-tatih di hadapan, saya mengingat kenangan-kenangan bersama Mbah dari yang paling pertama; termasuk saat saya diberi kado seekor ayam oleh Mbah saat saya masih kecil. It was too painful.

14.     Malam tahun baru 2013 dan 2014
Kalau malam tahun baru 2011 dan 2012 saya habiskan dengan jalan-jalan bersama teman-teman dekat di sekitaran Bundaran HI, malam tahun 2013 saya nikmati sendirian. Saya punya tiga teman dekat yang selalu merayakan malam tahun baru bersama-sama. Namun 2013 adalah pengecualian. Saya berada di Belanda, satu teman sedang di Amerika Serikat, dan dua yang lain ada di Indonesia. Kami merayakannya sendiri-sendiri dengan tiga zona waktu yang berbeda.

Malam tahun 2014, kami kembali berkumpul di Jakarta. Hanya saja tidak lengkap berempat karena satu teman memilih merayakan di Surabaya. Sedang mujur, kami mendapat jatah satu kamar hotel gratisan dari kantor seorang teman. Kami mengawali perayaan tahun baru dengan makan malam di Lotte Avenue, kemudian langsung menuju sebuah hotel di Jakarta Pusat.

Tak banyak yang kami lakukan kecuali menikmati pergantian tahun tanpa hingar-bingar. Saya dan seorang teman sempat ke swimming pool party namun saya kembali ke kamar setelah sepuluh menit. Rasanya lebih nyaman menikmati kembang api dari jendela kamar ketimbang berbaur dengan orang-orang yang tak saya kenal.

Anyway, begitulah empat belas cerita kilas balik dua tahun kemarin. Semoga tahun ini lebih baik dari tahun-tahun kemarin. Amien!

2013 vs 2014 (I)


Sejak tahun pertama membuat blog pada 2011, saya selalu membuat semacam ringkasan tentang apa-apa yang saya pikir perlu diingat selama rentang setahun untuk kilas balik di akhir tahun. Itu masih tetap saya lakukan di 2012, namun ‘terlupakan’ di penghujung 2013. Saya ingin kembali menulis untuk flash back 2014, dan supaya ingatan tentang 2013 tidak hilang, saya akan menjadikannya satu di postingan ini dengan melakukan komparasi pada keduanya.

1.     Tahun tercapainya mimpi-mimpi
Kalau ada hal yang bisa menjadi benang merah antara 2013 dan 2014, itu adalah tercapainya mimpi-mimpi saya – mulai dari kuliah di Eropa hingga menjelajah London dan bertualang ke kota kelahiran The Corrs di Dundalk, Irlandia. Pada kilas balik 2012, ini salah satu yang saya ungkapkan tentang mencari beasiswa luar negeri, “Ada saat-saat ketika saya ingin menyerah. Tapi saya pastikan, tahun 2013 bukanlah saatnya.” Terjemahan bebasnya: “Saya sudah hampir menyerah, tapi hey, mungkin saya bisa mencoba sekali lagi untuk tahun 2013”. Beruntung saya masih niatkan diri dan terus berusaha mendapatkan beasiswa di Belanda untuk tahun 2013, yang langsung terbayar dengan diterimanya saya pada dua skema beasiswa sekaligus. Cerita selengkapnya bisa di sini. Di tahun 2014, bucket list untuk pergi ke Inggris dan Irlandia telah saya coret dengan perasaan puas. Ceritanya bisa dibaca di sini dan sini.

2.     Tahun-tahun kecemasan
Tahun 2013 dan 2014 juga tahun yang membuat saya cemas karena banyak hal baru yang mesti dijalani. 2013 lebih membuat saya gelisah karena bayangan kuliah dan tinggal di Eropa masih terlampau abstrak buat saya. “Bagaimana kalau?” adalah kalimat tanya yang sering membuat tidur saya gelisah, terutama menjelang keberangkatan saya ke Belanda. Di awal-awal kuliah, pertanyaan yang sama juga tak mudah ditepis.

“Bagaimana kalau nilainya jelek?”
“Bagaimana kalau tidak bisa mingle dengan teman-teman?”
“Bagaimana kalau tidak lulus?”

Di tahun 2014, gelisah dan cemas saya bisa berkurang seiring semakin pahamnya saya tentang sistem belajar di kampus. Percaya diri saya meningkat di awal tahun, untuk kemudian kembali melorot saat membuat thesis.

 “Bagaimana kalau tidak bisa merampungkan thesis?”
“Bagaimana kalau thesis defence-nya berantakan?”
“Bagaimana kalau tidak lulus?”

Percayalah, banyak sekali “Bagaimana kalau?” yang terpikir dari mulai saya akan berangkat ke Belanda di tahun 2013 hingga setelah kembali ke Indonesia di tahun 2014. Melihat ke belakang, saya bersyukur bisa melewati masa-masa cemas tersebut.

3.     K-pop dan K-drama
Akhir 2013, saya mulai kecanduan k-pop dan k-drama dan semakin menjadi di tahun 2014. Bermodal koneksi internet cepat di apartemen, saya tonton k-drama lewat situs dramago, juga lagu-lagu k-pop di YouTube.

K-drama yang pertama saya tonton di Belanda adalah Prime Minister and I. Jalan ceritanya sendiri sangat biasa buat saya. Kalau bukan karena Yoona, saya malas menonton drama itu. Lee Seung Gi menjadi penyelamat lewat aktingnya yang charming di King 2 Hearts. Chemistry Park Yuchun dan Han Ji-Min di serial Rooftop Prince juga saya suka, bahkan di episode awal-awal membuat saya cekikikan saking lucunya. Karena rekomendasi teman, saya juga menonton You Who Came from the Star yang cheesy tapi enjoyable. Dari serial itu, saya terpukau dengan karakter Doo Min-joon yang super keren (Doo Min-joon punya perpustakaan di lantai bawah rumahnya). Drama terbaru Lee Seung Gi di 2014 – You’re All Surrounded – saya ikuti sampai akhir.

Untuk k-pop, saya mulai suka lagu-lagu SNSD. Saya bahkan menulis di sini tentang girl group yang menjadi salah satu ikon Korea Selatan ini. Kalau di tahun 2013 saya masih sering bingung membedakan personel SNSD satu dengan lainnya, di tahun 2014 saya sudah lulus menghapal nama dan semakin mahir mengenali suara masing-masing anggota SNSD. I think it is safe to say that 2013 and 2014 were my k-pop years.

4.     Daylight, Brave, A Look Back
Tiga judul lagu di atas adalah lagu yang ‘saya banget’ di sepanjang 2013 dan 2014. Menjelang akhir 2013, saat saya akan pergi ke Belanda, lagu Daylight-Maroon 5 jadi semacam lagu perpisahan.

“Here I am waiting.. I’ll have to leave soon. Why am I holding on?”

Saya ingat menangis sesenggukan karena lagu itu. Perasaan saya campur aduk antara takut dan cemas. Dalam tempo setahun, banyak hal yang bisa terjadi. Saya takut ketika kembali nanti, semuanya jadi berubah.

Perasaan yang berbeda saya rasakan saat mendengarkan lagu itu setelah saya lulus dan akan kembali ke Indonesia di akhir tahun 2014. Lagu itu jadi lagu perpisahan untuk teman-teman yang mungkin – mungkin – tidak bisa saya temui lagi karena beda benua.

“We knew this day would come.. We knew it all along.. How did it come so fast?”

Sementara Daylight jadi lagu sedih, Brave dari Josh Groban selalu saya dengarkan untuk memberikan semangat. Saya konsisten mendengarkan lagu itu di awal-awal kuliah ketika saya takut dengan tugas dan ujian, juga masih konsisten mendengarkan menjelang thesis defence.

“You wanna run away.. run away.. And you say that it can’t be so
You wanna look away.. look away.. But you stay ‘cause it’s all so close”

Dan ini lirik favorit saya.

“You can’t hide forever from the thunder.. Look into the storm and feel the rain…”

A Look Back – musik intrumental ciptaan Keith Kenniff – yang saya kenal pertama kali dari Facebook menjadi lagu manis penutup 2014. Mendengar lagu itu, saya diingatkan dengan setahun perjalanan saya di Belanda; mengingat kota kecil Wageningen yang damai dan menentramkan, kegiatan kampus dan beragam interaksi dengan teman-teman dari berbagai negara, awkward moments pada semua yang pertama, apartemen kampus tempat saya merasa paling nyaman, juga jalan-jalan mulai dari Amsterdam, Ede, Delft, Rotterdam, Den Bosch, Maastricht, Den Haag, Zwolle, Volendam, Keukenhof di Lisse, Nijmegen, Groningen, Leeuwarden, hingga perjalanan favorit saya naik Bis 88 ke Arnhem.

Seperti artinya, A Look Back juga membuat saya menengok ke belakang untuk mengingat excursion kampus ke Prancis dan Spanyol, jalan-jalan dengan teman-teman ke Jerman, dan banyak jalan-jalan solo – yang membuat saya merasa utuh namun juga merasa tak lengkap di saat yang bersamaan – ke negara-negara wish list seperti Swiss, Norwegia, Italia, Belgia dan tentu saja negara impian saya: Inggris dan Irlandia.
Lagu itu juga mengingatkan saya pada makanan yang saya sukai di Belanda (kebab di Wageningen Centrum yang rasanya juara, rice and beef di kantin kampus yang awalnya saya hindari, juga jajanan kecil macam poffertjes), pada dance yang saya lakukan malu-malu di party dan acara kumpul-kumpul lainnya, pada selimut listrik dan coklat panas yang membuat saya tetap hangat, pada well.. semuanya di Eropa sana. Tak habis-habis jika saya ceritakan satu-satu. But I’m sure you got the idea.

5.     Catching Fire dan Mockingjay I
November 2013, untuk pertama kalinya saya menonton film di bioskop Cinemec Ede, dekat Wageningen. Film yang saya tonton adalah Catching Fire, sekuel dari The Hunger Games. Saya coba ajak teman kampus untuk menonton, tapi tidak ada yang mau. Well, dengan internet kencang 24/7, kita bisa download bajakan film apapun, menontonnya sambil tiduran di kasur, dan menghemat 12 euro (bisa untuk makan siang 4x di kantin kampus). Tapi saya tetap ingin menonton di bioskop. Saya pikir 12 Euro worth-it untuk pengalaman menonton di tempat yang baru. Begitulah. Saya ke Cinemec sendirian. Awalnya canggung namun lama-lama terbiasa. Saya tuliskan pengalaman saya di sini.

Setahun kemudian, Desember 2014, saya sudah di Indonesia. Kali ini, film lanjutan The Hunger Games saga – Mockingjay I – sudah masuk Jakarta. Saya berencana menontonnya dengan teman-teman, tapi mereka malahan menonton sendiri-sendiri. Jadilah saya menonton dengan teman yang baru dikenalkan oleh teman saya.

The funny thing is that I felt more lonely watching movie with him than when I watched the movie by myself. Not that because he didn’t have efforts to talk or anything. He bought us popcorn and drinks and we had this chit-chat. But it didn’t seem right. It just didn’t feel alright. Kalau boleh memilih, saya mending menonton sendiri.

6.     Outliers dan Perfect
Outliers dari Malcolm Gladwell adalah buku yang mengingatkan saya pada 2013 dan 2014. Seorang teman baik memberikan buku itu buat saya sebelum saya pergi ke Belanda. Saya suka isinya, tentang kejadian-kejadian random yang well.. tidak begitu random kalau kita mau melihat lebih jeli lagi. Menarik! Karena isinya yang tidak menuntut untuk dibaca secara terus-menerus, saya mencicil membacanya. Outliers adalah buku yang paling sering saya bawa saat bepergian, untuk senjata membunuh waktu kalau-kalau saya bosan mau melakukan apa. Buku itu saya tamatkan di 2014 dengan ending yang wow.

Rachel Joyce menarik perhatian saya lewat bukunya yang pertama saya baca: Perfect. Awal 2014, saya ingin membaca sesuatu yang baru, sesuatu di luar buku-buku atau penulis yang saya kenal. Saya memilih Perfect secara acak (well.. saya baca sinopsis di cover belakangnya terlebih dulu sih, hanya itu). Alur ceritanya yang lambat dan maju-mundur membuat saya malas-malasan membacanya.

Namun uniknya, seperti ada sesuatu yang membuat saya terhubung dengan tokoh utama di buku tersebut. Saya merasakan ikatan dengan karakternya dan di sepertiga akhir buku tersebut – sudah tak terbendung – saya jatuh pada karakter tersebut. Sepanjang yang saya ingat, karakter itu adalah karakter pertama dalam buku yang membuat saya ingin memeluknya dengan kasih.

7.     From Sharon Corr to The Celtic Tenors
Tak banyak konser yang saya datangi di dua tahun terakhir. Bukan masalah, karena pada Desember 2013 akhirnya saya bisa menonton konser Sharon Corr. Live! Saya tuliskan kisahnya di sini. Beberapa bulan setelahnya – April 2014 – saya dan dua orang teman menonton The Celtic Tenors.

Kalau saat nonton konser Sharon Corr saya beli CD-nya, hal yang sama tak saya lakukan untuk The Celtic Tenors. Saat itu, tabungan saya terkuras hingga menyisakan 1 Euro di ABN Amro karena membeli tiket pesawat pp Amsterdam-Jakarta untuk keperluan thesis dengan uang sendiri. Kampus baru akan menggantinya pada bulan berikutnya. Well, saya masih memegang kartu ATM dari Indonesia sih, untuk jaga-jaga. Namun waktu itu saya sedang tidak ingin berboros-boros membeli yang tidak begitu diperlukan. Praktis saya cuma menonton konsernya, tidak punya CD sebagai kenang-kenangan.

Lanjut ke sini.

Monday, 22 December 2014

Tentang Mencari Rumah

Saya sudah bekerja selama setahun ketika mulai mencari-cari referensi rumah di berbagai situs online. Belum, saya belum berminat untuk membelinya. Saya hanya suka melihat-lihat model, harga, dan lokasinya. Saat itu saya sudah tahu bahwa memiliki rumah adalah hal yang sudah harus mulai dipikirkan, namun cita-cita saya untuk menjelajah Inggris dan Irlandia lebih kuat. Oleh karenanya, saya menabung demi tiket ke Eropa, bukan untuk DP rumah.

Dari 'hunting' rumah secara online itu, saya belajar bahwa rumah di Jakarta sudah tidak masuk akal harganya. Kalau ingin rumah yang masih murah, pinggiran Jakarta bisa jadi alternatif. Kalau ingin dtinggal di pusat kota, apartemen bisa jadi pilihan. Soal harga, well, jangan tanyakan mahalnya. Saat itu, apartemen di Kuningan sudah menembus 500 juta.

Seiring waktu berlalu, saya sudah mulai 'lupa' dengan keinginan membeli rumah di Jakarta. Hingga akhirnya saya kuliah di Belanda dan tinggal di apartemen mahasiswa dekat kampus.

Apartemen saya di Bornsesteeg hanya terdiri dari satu kamar, dengan dapur dan toilet. Saya tinggal di lantai tertinggi, lantai 20. Tidak semua kamar di Bornsesteeg memiliki toilet pribadi. Beberapa mahasiswa mesti berbagi toilet dan kamar mandi. Di apartemen mahasiswa yang lainnya, seperti Asserpark atau Haarweg, malahan tidak disediakan dapur dalam kamar hingga mahasiswa mesti memasak di dapur bersama-sama.

Harga kamar saya lebih mahal karena toilet dan kamar mandi dalam itu. Tapi sungguh, itu sebanding dengan kenyamanan yang saya rasakan. Toilet di Belanda adalah toilet kering. Itu sangat menyusahkan bagi muslim untuk mensucikan diri dari hadas. Selain itu, toilet umum di tiap-tiap koridor apartemen adalah toilet campur. Tidak dibedakan laki-laki dan perempuan. Saya pernah mengalami itu saat masih tinggal di temporary housing di Maurits Ede selama dua minggu. Dan itu rasanya tidak menyenangkan.

Itulah sebabnya saya bahagia tinggal di Bornsesteeg. Saya bisa memasak semau saya, bisa berlama-lama mandi air hangat dan tak perlu mengantri giliran ke toilet. Dinding di kamar juga kedap suara sehingga saya tak terganggu suara dari tetangga sebelah kamar dan saya pun bebas menyetel TV atau lagu keras-keras.

Terbiasa tinggal nyaman di Bornsesteeg selama setahun membuat saya mudah protes ketika akhirnya kembali ke kosan di Jakarta. Saya tidak suka dengan kamar yang sempit, tidak sabar mengantri giliran mandi ataupun ke toilet, dan frustasi karena kamar yang berisik sementara saya tidak bisa menyetel musik keras-keras. Di kosan, saya juga tidak bisa memasak. Jaringan TV jelek dan saya kangen acara-acara TV yang sering saya tonton di Belanda :( Yang lebih menyebalkan, listrik sering padam terutama di pagi hari karena kebanyakan beban.

Belum sebulan kembali ke Indonesia, saya sudah ingin beli rumah. Setelah berhitung, rumah yang masuk budget ada di daerah Bogor, entah itu Bojonggede atau Citayam. Jauh memang, tapi ada KRL yang langsung ke Stasiun Tebet, dekat dengan kantor.

Tanggal 26 Oktober, saya ditemani saudara ke Bojonggede. Kami melihat-lihat rumah yang dekat dengan stasiun. Harga maksimal yang bisa saya tanggung adalah 250 juta. Itupun dengan estimasi KPR 20 tahun karena uang cash yang saya punya untuk DP tidak besar. Uh, ternyata sulit mencari rumah harga segitu di daerah dekat stasiun. Ada perumahan yang rapi dan berjarak satu kilometer dari stasiun, tapi harganya sudah 500 jutaan. Mendengar harganya saja saya sudah panas dingin.

Saat hendak pulang, kami mampir sebentar di sebuah perumahan yang hanya berjarak 400 meter dari stasiun. Dengan tipe 36/78, rumah tersebut dijual seharga 365 juta. Itu sudah di luar budget. Tapi saudara saya rupanya menganggap perumahan itu layak untuk diperjuangkan. Setelah nego, harga rumah bisa diturunkan menjadi 333 juta. Saya diberi waktu singkat untuk menentukan iya atau tidak.

Sebagai tambahan, saya mesti DP dalam jumlah besar supaya mendapat diskon. Setelah hitung-hitungan singkat dan sempat menelepon teman kantor, saya niat mengambil rumah itu. Sebagai booking fee, saya berikan uang 2 juta.

Setelah pulang ke kosan, saya menjadi tak yakin dengan keputusan saya. Seminggu kemudian, saya bolak-balik memikirkan ulang - sampai membuat analisis SWOT - dan berujung pada kesimpulan untuk tidak jadi mengambil rumah di Bojonggede.

Saya bisa membayar DP, tapi itu artinya saya menghabiskan seluruh investasi dan tabungan saya. Sangat riskan jika hidup tanpa dana cadangan. Terlebih, masih ada biaya KPR bank. Belum lagi saya ada rencana liburan ke Singapura dengan bapak-ibu di akhir tahun. Hitung-hitung, total saya minus 10 juta dan tanpa menyisakan tabungan. Saya ngeri membayangkannya.

Masalah lainnya, sebenarnya saya kurang suka dengan lokasi perumahannya. Di dalam perumahan sih rapi, model cluster. Tapi begitu keluar, jalanan macet dan bolong-bolong. Untuk pergi ke pusat kota, kita harus melewati rel kereta api. Itu paling saya hindari. Cicilan untuk rentang 20 tahun pun masih berat buat saya. Oh well, terlebih pemerintah yang sekarang memiliki semangat penghematan yang berpengaruh ke honor di kantor. Singkatnya, saya tidak mau menanggung beban selama itu untuk rumah yang, uh, sebenarnya mungkin belum terlalu saya butuhkan.

Saya batalkan pembelian rumah dan booking fee-pun hangus. Anehnya, saya justru merasa lebih lega. Seperti punya beban yang tiba-tiba terangkat dari pundak.

Beberapa minggu berikutnya, bersama seorang teman, saya ke Citayam untuk melihat rumah seharga 200 jutaan. Tapi begitu sampai stasiun, saya langsung ilfeel. Sama seperti di Bojonggede, jalanan depan Stasiun Citayam juga macet parah karena terhambat pasar. Dari itu saja, saya sudah tahu takkan mengambil rumah di sana. Rumah yang kami cari-cari juga tak kami temukan, yang ada justru perumahan seharga 300 jutaan.

Well, mungkin saya tak boleh terburu-buru.

Setelah Bogor, tujuan saya alihkan ke Tangerang. Memang agak repot naik KRL dari Tangerang ke kantor - saya mesti transit di Stasiun Tanah Abang - tapi sebenarnya saya lebih suka suasana Tangerang ketimbang Bogor. Saya memimpikan punya rumah di kota mandiri seperti BSD yang teratur; sayang harga di BSD juga sudah sangat mahal. Saat sedang mencari rumah secara online di daerah Barat Jakarta, saya menemukan promo Citra Maja Raya besutan Ciputra Group.

Jadi, Citra Maja Raya memiliki konsep kota mandiri yang terletak di Lebak, Banten. Ada KRL dari Tanah Abang dengan tujuan akhir Maja. Karena ini proyek yang masih sangat awal, harganya juga murah; dimulai dari 100 jutaan untuk tipe terkecil 22/60.

Awalnya saya tertarik, tapi kemudian urung karena melihat lokasi yang sangat jauh, 1.5 jam dari Maja ke Tanah Abang. Tapi, pernah dengar kalau rumah itu jodoh-jodohan? Saya merasakannya dengan Citra Maja Raya.

Tanggal 23 November, saya niat nonton HelloFest di Senayan. Darn, ternyata antriannya panjang di bawah terik matahari yang menyengat. Saat hendak ke HelloFest, saya melewati pameran propeti di JCC. Akhirnya, saya keluar dari antrian dan malahan menuju ke pameran properti.

Seperti yang saya perkirakan, harga rumah di pameran juga mahal-mahal. Saya melihat satu stand yang lumayan ramai dikunjungi, itu adalah stand Citra Maja Raya.

Saya tanya-tanya pada salah satu agen pemasarannya, Pak Hermawan, dan saya langsung tertarik membelinya. Ini adalah beberapa hal yang membuat saya berminat pada Citra Maja Raya:
1. Harganya masih murah. Rumah sederhana tipe 36/72, dihargai 165 jutaan. DP-nya ringan, saya tak perlu mengutak-atik dana darurat. Cicilannya pun bisa saya buat hanya untuk 10 tahun. Saya tak perlu berhutang untuk membayar DP dan biaya KPR, saya juga masih punya tabungan.

2. Sudah ada rencana dari pemerintah untuk memperluas Stasiun Maja. Saya yakin, ke depannya, transportasi umum akan mengambil alih kendaraan pribadi. Waktu 1.5 jam dari Maja ke Tanah Abang mungkin lebih masuk akal dibanding kemacetan berjam-jam naik mobil di pusat kota.
 
3. Pengembang berencana menyediakan kereta dari dari dalam perumahan ke Stasiun Maja. Konsep kota mandirinya pun saya suka, dengan hutan kota di dalamnya. 
 
4. Dikatakan, Lion Air akan membangun bandara di sana. Well, ini masih rancu apakah itu benar di Maja atau di kota lainnya di Banten. Tapi yang pasti, pembangunan bandara di Banten pasti akan berpengaruh positif pada pertumbuhan ekonomi kota-kota di Banten, termasuk Maja.

5. Selama dua minggu pameran, Nomor Urut Pendaftaran (NUP) sudah mencapai 7.000 lebih. Semakin banyak peminatnya, Citra Maja Raya akan semakin cepat berkembang. Saat saya mendaftar, NUP saya sudah di atas 7.700 dan dijadwalkan untuk memilih unit pada tanggal 5 Desember di Cikupa.

Sayangnya, serah terima rumah dijadwalkan 2.5 tahun pada pertengahan 2017. Itu memang masih sangat lama. Pengembang beralasan itu karena banyaknya rumah yang akan dibangun. Saya berharap selama 2.5 tahun itu, KRL sudah lebih bagus. Saya bayangkan ada KRL langsung dari Stasiun Maja ke Stasiun Tanah Abang. Saya juga memimpikan KRL dua tingkat yang memuat lebih banyak penumpang sekali jalan hingga tak perlu berdesak-desakan seperti sekarang.

Saya tahu Maja memang belum berkembang. Tapi saya yakin 10 tahun dari sekarang - kalau pengembang masih konsisten pada konsep kota mandiri - Maja akan lebih nyaman untuk ditinggali ketimbang dua tempat yang saya survey sebelumnya.

Anyway, pada saat pameran saya tidak membawa uang cash ataupun kartu debit. Saya mesti setor sejuta untuk mendapatkan NUP dan hari itu adalah hari terakhir sebelum launching bulan Desember. Saya mesti pulang ke kosan naik ojek, konsultasi pada bapak-ibu, dan langsung booking sore itu juga.

Tanggal 5 Desember, saya memberi kuasa pada Pak Hermawan untuk memilihkan unit untuk saya. Dia bilang cluster dengan harga lama sudah sold out. Kalaupun masih ada unit rumah, lokasinya tidak strategis. Akhirnya, saya memutuskan memilih di cluster baru dengan harga dinaikkan 5%. Unit saya nantinya akan ada di cluster Springwood. Mendengar namanya saja saya sudah senang.

Tanggal 9 Desember, saya melakukan pelunasan DP dan sehari setelahnya saya mulai apply KPR BII dengan bunga fix 13.75% selama sepuluh tahun.

Sampai saat ini, KPR saya masih dalam proses. Semoga saja tidak ada hambatan. Dan uh, rasanya tak sabar untuk melihat rumah saya selesai dibangun.